Kuliah di India, dari Homesick hingga Diajak Selfie

Afriani Susanti , Okezone · Selasa 19 Januari 2016 12:38 WIB
https: img.okezone.com content 2016 01 19 65 1291702 kuliah-di-india-dari-homesick-hingga-diajak-selfie-E36ugyfz3d.jpg Rahmiaty Isma gigih menempuh studi di India meski negara tersebut dikenal rawan. (Foto: dok. Rahmiaty Isma)

JAKARTA - Tinggal jauh dari keluarga apalagi berada di tempat yang rawan tindak kriminal dan konflik memang tidak mudah. Situasi itulah yang dijalani salah satu mahasiswa Indonesia di India, Rahmiaty Isma.

Ami, demikian dia biasa disapa, memilih kuliah di India karena negara tersebut dikenal memiliki pendidikan unggulan. Meski kasus kekerasan seksual terhadap perempuan di India sempat marak diberitakan, Ami tidak gentar.

"Sebelum berangkat, saya bekali diri dengan berbagai informasi dan risiko tinggal di India. Saya juga cari tahu langkah apa saja yang harus diambil jika menghadapi situasi bahaya di sana," tutur Ami ketika berbincang dengan Okezone belum lama ini.

Seperti mahasiswa rantau pada umumnya, Ami juga merasakan homesick di awal-awal masa studi. Jarak yang jauh dan ongkos transportasi yang mahal tentu tidak memungkinkan Ami untuk sering pulang kampung. Komunikasi via Skype pun tidak selalu menjadi penghibur.

"Perasaan rindu rumah pasti ada," ungkapnya.

Selain homesick, anak kedua dari tiga bersaudara itu juga harus menghadapi berbagai kebiasaan yang sama sekali baru. Misalnya, dalam urusan makanan. Lidahnya tidak terbiasa dengan masakan India. Untuk menyiasatinya, dia memasak makanan sendiri untuk bekal makan siang di kampus. Karena itulah, Ami rutin berbelanja seminggu sekali.

"Tapi saya jarang makan ikan di India, karena harganya mahal sekali untuk kantong mahasiswa," imbuhnya.

Memasak makanan sendiri, kata Ami, lebih aman ketimbang membeli makanan jadi. Pasalnya, gadis asal Aceh itu pernah mengalami gangguan pencernaan setelah menyantap makanan India.

"Selain itu juga bisa berhemat," tuturnya.

Hal lain yang membuat gadis berkerudung ini berusaha keras saat proses adaptasi adalah urusan sanitasi. Ami bercerita, banyak penduduk India tidak memerhatikan kebersihan. Sering kali dia melihat para pria India buang air kecil di sembarang tempat padahal sudah ada fasilitas semacam toilet umum di berbagai tempat.

"Selama hampir sebulan saya selalu membawa tisu atau sapu tangan untuk menutup hidung. Sampai-sampai saya pakai masker. Tapi setelah itu ya jadi terbiasa," paparnya.

Ami mendalami Ilmu Pendidikan di Institute of Advanced Study in Education (IASE) Osmania University. Selain sibuk dengan aktivitas akademis, Ami juga mengisi waktu dengan bepergian ke berbagai daerah.

Menurut Ami, penduduk India sangat ramah terhadap orang asing. Bahkan, karena warna kulitnya yang cenderung lebih terang dibandingkan penduduk asli Negeri Bollywood, Ami pun sering dianggap "bule". Tidak jarang, Ami dan teman-teman sesama mahasiswa sering menjadi pusat perhatian.

"Mereka sering mengajak selfie. Padahal saya berusaha tidak mencolok," katanya.

Di India, Ami juga merasakan kemacetan. Bahkan, lalu lintas di sana lebih ruwet bila dibandingkan dengan di Tanah Air.

"Naik kereta juga tidak jauh berbeda, gerbong padat penumpang. Dan mereka 'wangi-wangi'," ujarnya sambil tertawa.

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini