Ketua tim peneliti EI-GUN Mirza Ita Dewi Adiana di Malang, Jawa Timur, Minggu (4/10/2015) mengatakan, dalam proses inseminasi buatan (IB) diperlukan bahan semen beku. Selanjutnya dilakukan proses pembekuan semen yang membutuhkan keterampilan khusus dengan alat impor dari Jerman yang harganya ratusan juta rupiah.
"Alat EI-GUN ini dikhususkan untuk IB semen segar, sehingga peternak tinggal mengejakulasi dan mengawinkan ternak tanpa alat impor dengan harga mahal seperti yang digunakan selama ini. Untuk saat ini alat EI-GUN ini kami terapkan untuk IB pada kambing dan kalau sudah berhasil, akan kita kembangkan lagi pada ternak besar seperti sapi," katanya.
Mirza mengemukakan, ide pembuatan alat EI-GUN dilatarbelakangi dengan kondisi negara Indonesia yang merupakan negara agraris, namun kebutuhan pangannya masih tergolong belum tercukupi, khususnya di sektor peternakan, yakni protein hewani. Rendahnya konsumsi protein hewani di Indonesia, katanya, sangat dipengaruhi oleh lambatnya pertumbuhan produktivitas populasi ternak yang ada di daerah, sehingga menyebabkan mahalnya harga pangan sumber protein hewani.
"Melihat kondisi tersebut, kami terdorong untuk menciptakan alat EI-GUN, yang berfungsi untuk IB atau mengawinkan ternak dengan menggunakan semen (sperma) segar," ujarnya.