Fenomena ini, kata Ketua Umum Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI), Yuliandre Darwis, PhD, tidak bisa menjadi tolok ukur bahwa orang yang tidak sekolah pun akan berhasil.
"Sebab, angkanya hanya satu persen. Tidak bisa menjadi tolok ukur secara permanen," ujar Andre, saat dihubungi Okezone, belum lama ini.
Andre menilai, mereka yang berhasil tanpa proses sekolah memiliki kemampuan lain yang bisa mendukung kerja keras mereka.
"Ada nilai lain, mungkin mereka punya soft skills yang tepat. Kualitas, kegigihan menjadi seorang wirausaha yang tangguh. Tetapi selain itu, juga masalah rezeki, kan?" ujarnya.
Meski demikian, jika mengukur kesuksesan dalam parameter keilmuan, maka tentunya kita perlu untuk terus mencari ilmu. Andre menilai, kita perlu memiliki keahlian dalam bidang tertentu melalui proses belajar formal. Apalagi, imbuhnya, penerapan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) tidak hanya membutuhkan kesarjanaan, tetapi juga kompetensi.
"Misalnya apakah kita berhak melamar menjadi seorang public relations (PR) jika kita sarjana ekonomi? Makanya perlu tes dulu sebagai seorang PR," tambah Andre.
Dia berharap, sarjana-sarjana Indonesia bisa memiliki hard skill dan soft skill yang diperkuat saat masuk ke perguruan tinggi. "Dengan begitu, bisa membentuk karakter menjadi seorang sarjana yang benar-benar siap pakai baik di masyarakat, industri, maupun dunianya sendiri," tutupnya.
(Rifa Nadia Nurfuadah)
Edukasi Okezone hadir dengan Informasi terpercaya tentang pendidikan, tryout ujian, dan pengembangan karier untuk masa depan yang lebih baik