JAKARTA - Matthew Youlden fasih berbicara sembilan bahasa dan memahami belasan bahasa lainnya. Dia dikenal sebagai poliglot, kelompok orang yang menguasai minimal enam bahasa secara lancar.
Tidak hanya itu, dia juga seorang sosiolinguis yang mempelajari bahasa yang hampir punah serta cara merevitalisasinya. Tetapi bila melihatnya sehari-hari, Matthew lebih dari sekadar poliglot. Bisa dibilang, cowok asli Manchester, Inggris, ini adalah seorang bunglon bahasa. Orang Jerman akan berpikir bahwa dia asli Jerman, Orang Spanyol akan berpikir dia kelahiran Spanyol, dan seterusnya.
Seperti dinukil dari laman Babel, Selasa (30/12/2014), Matthew menguasai berbagai bahasa dengan kegigihan, antusiasme dan pikiran terbuka. Kemampuan multibahasa Matthew tidak mengisolasinya dalam menara gading; hal itu justru menghubungkannya dengan banyak orang di dunia.
"Semakin banyak bahasa yang Anda kuasai, semakin banyak cara pandang yang Anda miliki," kata Matthew.
Dia memaparkan, setiap bahasa memiliki cara pandang sendiri dalam melihat dunia. Jika Anda berbicara satu bahasa, maka Anda memiliki cara berbeda dalam menganalisa dan menginterpretasi dunia. Bahkan jika kedua bahasa itu erat, seperti Spanyol dan Portugis; keduanya pada saat yang bersamaan merupakan dua dunia berbeda dengan dua cara pikir.
Karena itulah, kata Matthew, setelah mempelajari dan dikelilingi bahasa lain, dia tidak mungkin memilih salah satunya. Pasalnya, dengan memilih, maka akan mengurangi kemungkinannya untuk dapat melihat dunia dalam berbagai cara.
"Jadi, gaya hidup monolingual, bagi saya, adalah hal yang paling menyedihkan dan membosankan dalam melihat dunia. Ada banyak keuntungan dari mempelajari suatu bahasa, saya tidak dapat memikirkan alasan mengapa kita tidak melakukannya," imbuhnya.
(Rifa Nadia Nurfuadah)
Edukasi Okezone hadir dengan Informasi terpercaya tentang pendidikan, tryout ujian, dan pengembangan karier untuk masa depan yang lebih baik