Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

UK Petra Pamer Museum Wayang di China

Rachmad Faisal Harahap , Jurnalis-Selasa, 21 Oktober 2014 |20:08 WIB
UK Petra Pamer Museum Wayang di China
UK Petra Pamer Museum Wayang di China (Foto: kenchikushinjinsen)
A
A
A

JAKARTA - Universitas Kristen (UK) Petra Surabaya memamerkan karya museum wayang pada kompetisi arsitektur di China. Museum Wayang Pou Te Hi ini merupakan karya mahasiswi program studi (prodi) arsitektur, Sylviana Putri.

Sylviana menjadi satu-satunya wakil Indonesia dalam Internasional Asian Architectural Rookie's Award 2014 di Dalian, China, 22-26 Oktober mendatang. Sylvi menjelaskan, Pou Te Hi adalah salah satu jenis wayang asal Tionghoa. Untuk memainkannya, kita tidak memerlukan kayu sebagai alat bantu melainkan langsung menggunakan tangan yang dimasukkan dalam bonekanya.

"Oleh karena itu, filosofi benda mati terasa seperti hidup sangat kental," kata Sylvi, seperti dinukil dari keterangan tertulis UK Petra kepada Okezone, Selasa (21/10/2014).

Mahasiswi angkatan 2010 itu pun merancang Museum Wayang Pou Te Hi sesuai dengan konsep dasar dari wayang tersebut. Dia menggabungkan bentukan kubus dengan bola yang tembus pandang.

Konsep dan kesan hidup ditampilkan dengan tangga rem. Sehingga, jika dilihat dari luar, maka para pengunjung dari satu fasilitas ke fasilitas lain tampak bergerak.

"Museum ini dilengkapi dengan ruang pameran, mini teater, area santai dan toko souvenir," tuturnya.

Selain Sylvi, mahasiswa UK Petra lain yang juga berlaga di tingkat Asia Timur adalah Tan Ivan Hartanto. Mahasiswa prodi teknik mesin ini berkesempatan mengikuti Jenesys 2.0 selama seminggu di Jepang. Jeneys 2.0 merupakan program pertukaran pelajar dari Japan Internasional Cooperation Center (JICE) dan Kedutaan Besar (Kedubes) Jepang di Indonesia bekerjasama dengan Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek).

Ivan mengaku tidak menyangka bisa mengikuti program tersebut. Dia pun mendapatkan banyak pengalaman selama menyambangi Negeri Matahari Terbit.

"Salah satunya bagaimana orang Jepang sangat menghargai waktu. Kami juga belajar banyak hal mulai dari budaya Jepang, cara kerja orang Jepang, mengunjungi perusahaan solar power hingga berkunjung ke Istana Kumamoto," ujar Ivan.

Selain Ivan, ada 91 wakil lainnya dari Indonesia dalam ajang tersebut. Para peserta Jenneys 2.0 harus membuat esai dalam bahasa Inggris bertema "Science and Technology". 

(Rifa Nadia Nurfuadah)

Edukasi Okezone hadir dengan Informasi terpercaya tentang pendidikan, tryout ujian, dan pengembangan karier untuk masa depan yang lebih baik

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita edukasi lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement