Beasiswa, Tiket Luthfi Jadi Peneliti

Rifa Nadia Nurfuadah, Okezone · Jum'at 10 Oktober 2014 21:06 WIB
https: img.okezone.com content 2014 10 10 65 1050713 gN80QRlGYW.jpg Demi mengejar cita-cita sebagai peneliti, Luthfi Adam mengejar beasiswa riset di Amerika Serikat. (Foto: dok. pribadi)

JAKARTA - Riset dan sejarah selalu menjadi minat Luthfi Adam. Alumnus Universitas Padjadjaran (Unpad) ini pun terus mengejar mimpinya menjadi peneliti.

Luthfi memilih jalur beasiswa untuk mewujudkan cita-citanya. "Saya sangat termotivasi karena melihat gairah keilmuwan di perguruan tinggi Indonesia kian turun," ujar Luthfi, dalam surat elektroniknya kepada Okezone, belum lama ini.

Pria yang menjadi asisten dosen di Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Unpad sepanjang 2007-2013 itu merasakan betul, banyak dosen di Tanah Air yang terlalu nyaman dengan rutinitas mengajar. Mereka, ujar Luthfi, kehilangan gairah untuk menyelesaikan studi S-3.

"Padahal, menurut saya, jika sebuah kampus ingin menjadi kampus riset, dosennya wajib menempuh pendidikan doktoral. Dan saya merasa, mumpung masih belum tua, lebih baik cepat merampungkan studi S-3," tuturnya.

Pria kelahiran Ciamis, 4 Agustus 1984 ini lalu mendaftar ke program Arryman Fellows pada 2013. Program tersebut dirancang untuk mencetak ilmuwan sosial  yang aktif mengerjakan riset dan mempublikasikan karya ilmiah di level internasional. Nantinya, para penerima beasiswa Arryman Fellows akan menjadi pengajar di kampus yang akan mereka dirikan.

Ini bukanlah kali pertama Luthfi mendaftar beasiswa. Setahun sebelumnya, dia mendaftar pada beasiswa Fulbright tetapi gagal. Tidak patah arang, kegagalan itu justru memacu semangat anak sulung dari dua bersaudara itu untuk menyempurnakan proposal risetnya. Berbekal proposal itulah dia mendaftar dan berhasil mengikuti seleksi Arryman Fellows. Luthfi termasuk dalam 15 kandidat yang berhak mengikuti sesi wawancara dari total sekira 300 pelamar.

Luthfi mengaku gugup menghadapi wawancara tersebut. Apalagi, panel pewawancara diisi ilmuwan-ilmuwan sosial handal tingkat dunia. Meski demikian, sesi ini dijalani Luthfi dengan lancar. Dia pun terpilih menjadi salah satu dari empat penerima beasiswa satu tahun untuk menjadi peneliti tamu di Northwestern University, Amerika Serikat (AS). 

"Jika performa kami bagus, maka kami akan mendapat beasiswa enam tahun belajar di program PhD di kampus yang sama," imbuh Luthfi.

Menembus seleksi beasiswa barulah tahap awal. Pemegang gelar Master dari Universitas Gadjah Mada (UGM) ini pun harus menjalani perjuangan berikutnya, beradaptasi di Negeri Paman Sam. Baginya, penyesuaian yang paling utama adalah pada cara belajar.

Menurut Luthfi, kuliah di AS menuntut mahasiswa aktif membaca berbagai sumber tekstual. Dosen hanya berperan sebagai fasilitator. Selain itu, sebagai mahasiswa pascasarjana, dia menjalani banyak perkuliahan dalam bentuk seminar dan diskusi.

"Dan untuk berdiskusi dalam bahasa Inggris itu butuh adaptasi banget karena saya enggak pernah mengalami itu sebelumnya," tutur pecinta fotografi ini.

Karena itulah, Luthfi menganggap rasa malas menjadi tantangan terbesar selama dia menuntut studi di negeri orang. Sebagai penerima beasiswa, dia dituntut menunjukkan performa akademis yang baik. Meski demikian, kata Luthfi, yayasan pemberi dana beasiswa juga mengetahui betul sulitnya menjadi mahasiswa doktoral. Mereka pun memberikan berbagai dukungan mulai dari tutor penulisan ilmiah hingga menunjuk profesor yang menjadi mentor pribadi para fellows.

"Sistem mentoring ini keren banget, jadi kita benar-benar ditunjang untuk maju. Ketika enggak mengerti sesuatu, ya nanya ke mentor. Di sini yang penting jangan sungkan. Siapa sungkan dia tersungkur," paparnya.

Tentu saja, adaptasi pada lingkungan pun jadi catatan. Luthfi menganggap, hidup di Chicago lumayan berat, apalagi di musim dingin.

"Suhu udara yang mencapai minus 27 derajat cukup menguras energi," tambahnya.

Jauh dari kampung halaman membuat Luthfi belajar banyak hal, termasuk pengelolaan waktu. Di saat senggang, dia memilih memasak bersama teman-teman.

Satu hal yang membuatnya merasa lebih tenang saat kuliah di negeri asing adalah keberadaan sang istri yang baru dinikahinya Agustus lalu, Xora. Menurut Luthfi, keberhasilan studinya juga tergantung dari hubungan mereka. Dukungan sang istri yang diboyongnya ke Amerika pun sangat berarti.

"Studi setelah beristri justru bisa jadi lebih tenang, karena lebih tertata. Enggak luntang-lantung macam tahun lalu," tuturnya.

Setelah lulus, Luthfi akan menjadi dosen di School of Public Policy and Social Sciences yang akan didirikan oleh Indonesian Scholarship and Research Support Foundation (ISRSF), lembaga pemberi beasiswanya. Dia bertekad, akan menjadi dosen yang produktif mempublikasikan tulisan ilmiah dan aktif terlibat di dunia akademik global.

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini