Serba Mepet, Dian Tembus Beasiswa Prancis

Rifa Nadia Nurfuadah, Okezone · Jum'at 10 Oktober 2014 20:03 WIB
https: img.okezone.com content 2014 10 10 65 1050708 LzzYIB494H.jpg Meski dalam waktu mepet, Dian Kuswandini mampu menembus seleksi beasiswa ke Prancis. (Foto: dok. Pribadi)

JAKARTA - Bertahun-tahun menekuni suatu profesi bisa jadi membuat seseorang jenuh. Inilah yang dirasakan Dian Kuswandini.

Selama 2007-2010, Dian menjadi jurnalis pada surat kabar nasional berbahasa Inggris. Gadis berambut panjang itu merasa, sudah saatnya dia mendapatkan penyegaran dan meng-upgrade pengetahuan.

"Ini menjadi dorongan besar untuk melamar beasiswa," kata Dian.

Dalam surat elektroniknya kepada Okezone, baru-baru ini, Dian bercerita, sejak dulu dia ingin menjelajahi Eropa untuk melihat kehidupan dan budaya di negara-negara tersebut. Mimpi ini pun dijadikan target dalam perburuan beasiswa.

Pada 2010, Dian membuat daftar panjang program beasiswa di berbagai negara Eropa yang akan dia kejar sepanjang tahun berikutnya. Ketika itu, Bourses du Gouvernement Francais (BGF) merupakan program beasiswa dengan deadline terdekat yakni Maret 2011. Karena beasiswa ini mensyaratkan pelamarnya sudah diterima atau mendapatkan rekomendasi dari profesor atau perguruan tinggi di Prancis, Dian pun bekerja keras.

Selama empat bulan lebih, tanpa bantuan siapa pun, dia melakukan riset dari nol. Dian mengirimkan email berulang kali ke sekira 16 perguruan tinggi di Prancis. Sayangnya, hingga awal Maret, hanya empat kampus yang memberikan balasan.

"Itu pun hanya dua yang menjawab dengan baik, meski tak menjanjikan apa-apa. Mungkin karena mereka tidak yakin akan kemampuan bahasa Prancis saya untuk mengikuti pendidikan di sana," tuturnya.

Meski begitu, Dian tetap maju. Dia kembali mengirimkan surat dan CV kepada salah satu dari dua universitas tersebut untuk menunjukkan kesungguhannya. Usahanya membuahkan hasil. Perguruan tinggi tersebut mengizinkannya melamar meski pendaftaran resmi belum dibuka.

Lulusan terbaik Program Studi Komunikasi Massa, FISIP Universitas Indonesia (UI) pada 2006 ini pun melengkapi semua dokumen yang diminta. Wawancara dilakukan via Skype. Hasilnya, dia diterima sebagai mahasiswa S-2 di University of Paris-Est Créteil. 

"Kepastian penerimaan ini didapatnya hanya dua hari sebelum deadline beasiswa BGF. Dalam waktu yang sangat singkat itu, saya menyusun aplikasi beasiswa saya,"  tuturnya.

Meski serba mepet, perjuangan Dian terjawab ketika 1,5 bulan kemudian dia dipanggil untuk mengikuti sesi wawancara oleh Kedutaan Besar Prancis di Jakarta. Dua bulan setelah wawancara, Dian dinyatakan lolos program BGF.

Kelulusan ini tentu disambut sangat baik oleh perempuan yang lahir pada 7 Agustus 1983 itu. Sebab, dari sekira 700 pelamar, hanya akan dipilih 10 orang penerima beasiswa. Selain itu, sebenarnya BGF juga diprioritaskan untuk dosen dan pegawai negeri sipil (PNS).

"Saya harus meyakinkan juri saat wawancara. Banyak yang harus dibuktikan, dari segi motivasi, kesiapan, prestasi, dan rencana jangka panjang," imbuhnya.

Di Prancis, Dian berteman dengan banyak mahasiswa asing dan mahasiswa Prancis. Dengan begitu, dia bisa melatih kemampuan berbahasa Prancis. Sebab, tidak banyak orang bisa berbahasa Inggris di Negeri Menara Eiffel tersebut.

"Jika kita tidak berbahasa Prancis akan dicap sombong dan ujung-ujungnya dicuekin," kata Dian.

Dari segi sistem pendidikan, Dian memfokuskan proses adaptasi pada cara berpikir. Dia juga belajar untuk aktif, mampu berargumen kritis dan mengomunikasikan pemikirannya pada dosen di kelas. Bahkan, mahasiswa bisa memprotes nilai dari dosen. 

Suatu ketika, mahasiswi yang menekuni bidang International Strategic Management itu harus mempresentasikan materi untuk nilai akhir sebuah mata kuliah. Di akhir sesi, sang dosen bertanya tentang nilai yang diberikan padanya. Dengan jujur, Dian menyatakan kekecewaannya. Dia juga menyampaikan argumen yang kuat hingga sang dosen mengubah hasil nilai akhirnya menjadi lebih baik.

Mahasiswa di Prancis, kata Dian, juga bisa menilai performa dosen. Tidak jarang dosen yang mendapat penilaian rendah dari mahasiswa tidak dipakai lagi oleh kampus tempatnya mengajar.

"Jadi saya juga beradaptasi untuk mempraktikkan hak sebagai mahasiswa," ujar Dian. 

Sebagai mahasiswa penerima beasiswa, sarjana cumlaude dari UI ini tentu harus menjaga nama baik Indonesia di mata kampusnya. Dian harus terus mempertahankan nilai dengan baik jika masih ingin mendapatkan beasiswa.

Tetapi, serius belajar bukan berarti juga dia lupa bersenang-senang di waktu senggang. Meski harus irit, Dian tetap bisa memuaskan dahaganya akan kebudayaan Eropa, khususnya Prancis. Dia suka menghabiskan waktu luang dengan berjalan-jalan di taman.

"Saya juga bisa mengunjungi museum-museum dan pameran-pameran kebudayaan dan musik yang kebanyakannya gratis atau murah meriah," tutur Dian.

Gadis yang pernah bekerja sebagai Communication & Information Assistant di markas UNESCO, Paris, itu berharap dapat merampungkan studi S-2 pada tahun ini. Dia pun sudah memiliki rencana setelah lulus nanti.

"Saya akan mencari kesempatan kerja di Prancis untuk mengumpulkan modal dan membuka bisnis sendiri," ujarnya. 

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini