Capaian kompetensi menunjukkan persentase pada materi bilangan sebesar 30,9 persen, aljabar 28,40 persen, serta geometri dan pengukuran sebesar 30,41 persen.
Namun ia menjelaskan, murid masih memerlukan penguatan pada materi data dan peluang. Hal ini terlihat dari capaian pada kompetensi menginterpretasi penyajian data dalam bentuk diagram garis serta penerapan konsep peluang kejadian majemuk dalam permasalahan kontekstual sehari-hari, yang secara nasional berada pada angka 25,12 persen.
Sementara itu, pada mata pelajaran Bahasa Inggris yang diikuti oleh 3.462.201 peserta dari 43.461 sekolah, murid menunjukkan pemahaman yang cukup baik pada aspek pemahaman tekstual. Murid mampu memahami informasi eksplisit, mengelompokkan, menyusun ulang, serta menyajikan kembali informasi dari teks. Capaian pemahaman tekstual tercatat sebesar 32,77 persen dan pemahaman inferensial sebesar 28,53 persen.
Adapun tantangan masih terlihat pada aspek evaluasi dan apresiasi, seperti kemampuan membuat penilaian terhadap ide, menanggapi teks secara emosional dan estetis, serta mempertimbangkan dampak penggunaan bahasa terhadap perasaan dan imajinasi pembaca.
Secara nasional, capaian evaluasi dan apresiasi Bahasa Inggris berada pada angka 17,43 persen. Rahmawati menegaskan bahwa hasil TKA ini memberikan gambaran utuh mengenai kekuatan dan area penguatan pembelajaran murid Indonesia.