Meskipun secara prosentase kontribusi minyak dan gas menurun, namun secara volume justru meningkat. Menurut Rencana Umum Energi Nasional (RUEN), kebutuhan minyak akan meningkat sekitar 139 persen dan gas meningkat sekitar 289 persen dari kebutuhan saat ini.
Meskipun bauran energi mulai bergeser ke energi baru terbarukan (EBT), minyak dan gas tetap mendominasi sebagai sumber energi utama dalam beberapa dekade mendatang. Ini menyebabkan kebutuhan suplai energi dari minyak dan gas masih sangat tinggi dalam nominal.
2. Tantangan Penurunan Produksi Domestik
Produksi migas dalam negeri secara alamiah menurun seiring dengan menurunnya produksi dari lapangan-lapangan migas yang sudah beroperasi selama beberapa dekade (lapangan tua). Seiring dengan dominannya penemuan potensi migas berupa gas, saat ini produksi gas stabil dan trennya sudah meningkat sejak tahun 2023.
Untuk produksi minyak tantangan masih ada penurunan, dan upaya menahan decline rate minyak, SKK Migas dan KKKS berupaya dengan meningkatkan pemboran sumur pengembangan maupun menambah produksi melalui proyek-proyek hulu migas.
Indonesia yang dulu menjadi salah satu negara eksportir minyak, kini semakin bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan energi domestik. Adapun untuk gas, saat ini Indonesia produksinya diatas konsumsi domestik, sehingga sisanya diekspor.
Tanpa eksplorasi baru, ketergantungan impor minyak dapat terus meningkat serta berpotensi menurunnya produksi gas dimasa yang akan datang.
3. Transisi Energi Menuju Nett Zero Emission
Pemerintah Indonesia telah berkomitmen untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan beralih ke energi baru terbarukan. Namun, proses transisi ini tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat.
Sementara EBT terus berkembang, minyak dan gas bumi tetap menjadi tulang punggung ketahanan energi. Peran gas bumi sebagai agen transisi yang lebih ramah lingkungan dibandingkan batu bara dan minyak menjadi sangat penting di tengah proses ini.
4. Area Eksplorasi yang Belum Maksimal
Dari 128 cekungan migas di Indonesia, baru 20 yang sudah berproduksi. Kemudian sudah di bor dan ada temuan, tapi belum diproduksi sebanyak 8 cekungan, selanjutnya cekungan yang mengindikasikan ada hidrokarbon sebanyak 19 cekungan dan belum dilakukan pemboran sama sekali sebanyak 68 cekungan.
Ini memberikan peluang besar untuk menemukan cadangan migas baru yang dapat meningkatkan produksi domestik dan mengurangi ketergantungan pada impor.
Mengapa Eksplorasi Migas Menjadi Prioritas?
Untuk menjawab tantangan di atas, eksplorasi migas yang masif harus menjadi prioritas. Beberapa alasan mengapa eksplorasi migas sangat penting adalah:
1. Memenuhi Kebutuhan Energi yang Meningkat
Kebutuhan energi terus meningkat, dan meskipun pemerintah berupaya meningkatkan porsi energi terbarukan dalam bauran energi nasional, migas masih memegang peran penting dalam memenuhi kebutuhan energi.
Tanpa eksplorasi baru, maka produksi migas dari lapangan existing semakin lama akan semakin menurun, dampak kedepannya ketergantunan Indonesia akan terus bergantung pada terhadap impor akan terus meningkat yang dapat menimbulkan risiko bagi ketahanan energi.