Sifat permitivitas tersebut, imbuh Fani, merupakan kemampuan suatu benda menyimpan energi potensial listrik dalam pengaruh medan listrik. Nilai permitivitas ini dapat ditentukan dengan memanfaatkan konduktor pelat sejajar. Pada saat saliva diletakkan dalam suatu wadah berupa kuvet plastik yang berada di antara dua konduktor pelat sejajar, akan diperoleh nilai kapasitansinya.
“Dengan menggunakan persamaan fisika, akan diperoleh nilai permitivitasnya,” bebernya.
Berdasarkan fakta tersebut, Fani dan tim di bawah bimbingan dosen Dr rer nat Ruri Agung Wahyuono ST MT berhasil menginovasikan alat deteksi COPD menggunakan biosensor kapasitif berdasarkan nilai permitivitas cairan ludah. Tak hanya itu, algoritma deep learning pun diimplementasikan guna menganalisis data medis lain, seperti usia, gender, dan riwayat merokok pasien.
“Penerapan algoritma tersebut bertujuan untuk memperkuat diagnosis COPD,” imbuhnya.
Lewat kolaborasi Fani bersama Fabel Azzam Dedat, Muhammad Husein Az Zahro Saifulloh, M Ardi Riski Arasi, dan Laila Nurfitria Devi, alat detektor tersebut memiliki akurasi hingga 91,4 persen dan presisi mencapai 88,2 persen. Tak hanya itu, inovasi CoDetector tersebut juga telah membawa tim Program Kreativitas Mahasiswa kategori Karsa Cipta (PKM-KC) ITS ini berhasil meraih medali perak dalam Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) 2023 lalu.
Ke depannya, tim yang berasal dari Laboratorium Material Fungsional Maju, Departemen Teknik Fisika ITS tersebut berharap agar inovasinya ini dapat terus dikembangkan akurasinya sehingga bisa menjadi alternatif detektor COPD.
“Dengan biaya yang relatif terjangkau, semoga alat ini dapat dimanfaatkan oleh fasilitas kesehatan tingkat bawah,” tutupnya penuh harap.
(Feby Novalius)