JAKARTA - Rindu dengan permainan tradisional yang kaya akan kearifan lokal, kembali diperkenalkan kepada peserta International Geography Olympiad (iGeo) ke-19. Dalam perhelatan apresiasi permainan olahraga tradisional dan Malam Budaya Indonesia, peserta diajak turut aktif dan sportif bertanding di sebelah utara kampus Institut Teknologi Bandung (ITB).
Permainan Olahraga Tradisional dan Malam Budaya tersebut tersaji apik lewat kolaborasi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), Ikatan Alumni Tim Olimpiade Geografi Indonesia atau IA TOGI, dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Permainan Olahraga Tradisional merupakan permainan yang dikemas dengan olahraga rekreasi yang menyenangkan. Kegiatan permainan ini menjadi hiburan tersendiri, setelah sebelumnya para peserta saling berkompetisi menyelesaikan berbagai tes tulis maupun praktik tentang kebumian.
BACA JUGA:
Sebanyak 177 peserta saling bergantian ikut girang mencoba permainan olahraga tradisional. Para peserta terpukau oleh tampilan kesenian Benjang Helaran, salah satu peserta dari Tunisia menaiki replika burung Rajawali yang ditandu oleh para penari.
Selanjutnya di bawah terik matahari dan debu tanah yang beterbangan, para peserta secara aktif berkelompok ikuti empat permainan. Permainan dari mulai Dagongan, Balap karung, Terompah Panjang (lari bakiak), dan Sumpitan. Keempat permainan olahraga tradisional tersebut memiliki berbagai filosofi nilai semisal moral dan sportivitas.
BACA JUGA:
“Tim Denmark adalah tim yang penuh tekad, luar biasa, serta unggul. Kami belum pernah memainkan permainan yang menggunakan kerja sama mendorong bambu berukuran besar seperti ini,” kata peserta asal Denmark, Emil Winkel Gaarn, ketika ditemui seusai melakukan permainan Dagongan seperti dalam keterangan kepada Okezone, Senin (14/8/2023).
Setelah mengikuti permainan olahraga tradisional, para peserta dengan dibalut busana nasional dari negara masing-masing mengikuti malam budaya yang digelar di Sabuga. Selain busana batik dari peserta asal Indonesia, keragaman busana dari berbagai negara peserta lainnya menjadi refleksi dari tema yang diusung iGeo ke-19 yakni “Creative City for Inclusive Urban Community”.
Perwakilan dari Kedutaan Besar Republik Azerbaijan di Indonesia yang turut hadir di acara malam budaya, First Secretary, Lamiya Hamzayeva, mengatakan “Acara malam budaya menjadi kesempatan siswa peserta asal Azerbaijan mengenakan busana nasional Azerbaijan, sekaligus mempromosikan pertukaran budaya di antara para peserta. Ada pula penampilan Saung Angklung Udjo yang memainkan Alunan Massal Nusantara dan mengiringi tampilan Tari Kontemporer Nusantara.
Para peserta iGeo berkesempatan memainkan tiga lagu yaitu: ‘Ambilkan Bulan Ibu’, ‘Bengawan Solo’, dan ‘Can't Help Falling in Love’ menggunakan Angklung, instrumen musik tradisional Indonesia yang terbuat dari bambu. Tiap peserta memegang satu Angklung dengan nada berbeda yang dimainkan serentak, untuk kemudian Angklung tersebut menjadi cindera mata yang dibawa pulang oleh peserta.
(Marieska Harya Virdhani)