Menurut Jean Piaget, ketika anak lahir dan mulai belajar berbicara, anak cenderung untuk berbicara dengan dirinya sendiri.
Dalam berbicara dengan diri sendirinya pun, anak hampir selalu untuk mengucapkannya dengan keras sehingga menarik perhatian orang di sekelilingnya yang kemudian akan bertanya-tanya, “kepada siapakah anak tersebut berbicara?”.
Egosentrisme adalah suatu keterikatan dengan pandangan sendiri. Dapat pula dikatakan bahwa egosentrisme pada anak berarti anak terjebak dalam dunianya sendiri.
Pada tahap awal perkembangan kognitif, anak tidak mampu mengubah perspektif mental untuk membedakan beberapa aspek dari suatu peristiwa dan pandangan dirinya sendiri dengan pandangan orang lain (Rubin, 1973).
Anak kecil kurang waspada terhadap kehadiran orang lain. Akibatnya, anak mengembangkan bentuk bahasanya sendiri, seperti private speech.
Ketika menemui seorang anak kecil yang terlihat sedang berdiskusi dengan benda maupun tanpa benda, atau vokal maupun tidak vokal, kita tidak perlu khawatir.
Hal itu merupakan sesuatu yang wajar terjadi pada anak-anak, spesifiknya di usia 2-5 tahun. Private speech ini pula akan hilang sendiri nantinya seiring bertambahnya usia.
Perlu diketahui bahwa dasar dari egosentrisme anak lainnya adalah inner speech. Inner speech merupakan bentuk bicara anak yang terjadi secara internal. Artinya, anak berbicara dengan dirinya sendiri melalui batin dan tidak diucapkan secara lisan.
Anak-anak sangat menyukai kegiatan berimajinasi dan inner speech ini membantu anak dalam mengembangkan ide-ide.
Inner speech atau bicara batin ini memiliki fungsi pengaturan dan perencanaan diri. Misalnya, anak mengatur apa yang akan dia lakukan nantinya, mainan apa yang hendak ia gunakan untuk bermain, dan skenario apa yang akan dibuat ketika sedang bermain.
Namun, tetap penting untuk mengawasi anak-anak ketika mereka sedang berbicara sendiri meskipun tadi disebutkan bahwa hal tersebut adalah sesuatu yang wajar.
Kegemaran anak untuk berimajinasi ini dapat memunculkan kekhawatiran apabila terdapat keanehan yang terjadi hingga anak beranjak ke tahap perkembangan selanjutnya. Misalnya adalah munculnya teman fantasi.