Sementara itu, Ketua Umum Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia (Sena Wangi) Suparmin Sunjoyo menambahkan, wayang bernapaskan keluasaan pandangan yang mengedepankan dialog dalam perbedaan. Serta bernapaskan toleransi terhadap pluralitas untuk menerima komunitas lain.
“Wayang itu bukan Jawa sentris, tetapi Indonesia sentris. Karena ada Wayang Golek, Wayang Bali, Wayang Sasak, Wayang Banjar, Wayang Si Gale-Gale, Wayang Potehi, Wayang Orang, Wayang Revolusi dan lain-lain termasuk wayang kontemporer. Jadi Wayang lebih menyatukan rakyat dan bangsa Indonesia,” tutupnya.
(Fahmi Firdaus )