2. Demokrasi Liberal
Pada periode tahun 1950 hingga 1955, demokrasi liberal ini menekankan pada hak-hak individu yang diperoleh.
Pada masa demokrasi liberal, bermunculan berbagai aksi pemberontakan, seperti Republik Maluku Selatan (RMS), PRRI, dan Permesta yang ingin melepaskan diri dari NKRI.
Pada tahun 1955 demokrasi berjalan lebih baik dari sebelumnya, karena terlaksananya pemilihan umum yang dianggap paling demokratis.
Anggota konstituante tidak dapat menyusun Undang-Undang dasar seperti yang diharapkan.
Hal tersebut menyebabkan menimbulnya krisis politik, ekonomi, dan keamanan.
3. Demokrasi Terpimpin
Selajutnya, ada demokrasi terpimpin dengan periode pada tahun 1956 hingga 1965.
Pada saat masa ini, demokrasi tak berada pada kekuasaan rakyat seperti dari nilai pancasila yang diterapkan.
Kepemimpinan juga dipegang penuh oleh Presiden Soekarno melalui dekrit Presiden tahun 1959.
Faktor inilah yang menyebabkan penyimpangan penafsiran terhadap pancasila. Mengakibatkan Presiden Soekarno menjadi presiden yang otoriter.
(Natalia Bulan)