Inklusi ini, kata dia, diwujudkan dengan satu kelas yang terdiri dari bermacam-macam (disabilitasnya). Mereka bisa secara umum ikut dengan pelajaran yang disesuaikan dengan kemampuan.
Namun, pada saat kekhususannya dilatih guru khusus, misalnya anak tuna netra ketika umum boleh, ketika materi pelajaran orientasi mobilitas, braile misalnya khusus, begitu juga tuna rungu, ada guru khusus.
"Kami juga terus melatih guru, kemudian mencari formula yang standar isinya bagaimana, karena heterogen. Kami juga terus komunikasikan dengan pengawas pendidikan khusus," kata dia.
(Natalia Bulan)