BANDUNG BARAT - Kebiasaan siswa di Kabupaten Bandung Barat (KBB) dalam menulis dan membaca di luar aktivitas belajar mengajar di sekolah masih rendah.
Hal ini tentunya menjadi pekerjaan rumah bagi Dinas Pendidikan (Disdik) untuk terus meningkatkan budaya literasi di kalangan siswa.
"Tingkat literasi siswa di KBB masih rendah. Kebanyakan masih mengandalkan saat menjalani kegiatan belajar mengajar (KBM) di sekolah," kata Kepala Bidang SD, Dinas Pendidikan, KBB, Dadang A. Supardan, Senin (11/7/2022).
Berkaca dari kondisi tersebut, Disdik KBB bakal melakukan penguatan literasi siswa melalui berbagai program. Mulai dari gerakan membudidayakan membaca dan menulis, menambah kelengkapan koleksi bahan bacaan, hingga peningkatan infrastruktur perpustakaan.
Sebab, lanjut Dadang, sejauh ini kehadiran perpustakaan masih belum difungsikan secara optimal. Perpustakaan hanya dianggap sebagai gudang buku, bukan tempat siswa untuk membaca dan menambah wawasan pengetahuan literasinya.
"Kita akan wajibkan lagi gerakan membaca massal serempak minimal satu bulan sekali di sekolah. Sedangkan untuk penguatan menulisnya ada program satu sekolah satu buku (Sasabu) dari karya guru dan siswa," sebutnya.
Menurutnya, ketersediaan perpustakaan di SD baru mencapai 25% dari ratusan sekolah. Untuk pemenuhan gedung perpustakaan 100% Disdik perlu melakukan secara bertahap. Sementara ini bakal disediakan pojok baca dan menambah kelengkapan bahan bacaan terlebih dahulu.
Sedangkan untuk penguatan program literasi ini, akan difokuskan untuk bacaan dan hasil tulisan berisi sastra atau puisi. Harapannya program ini bakal diterapkan bukan saja oleh siswa dan guru, tapi juga oleh orang tua murid. Sehingga mereka juga bisa memberikan contoh secara langsung kepada anaknya.
"Orang tua siswa juga harus memberi contoh, jadi saat menunggu siswa di sekolah mereka bisa sambil membaca buku, jadi gak cuma ngobrol atau main HP," imbuhnya.
(Natalia Bulan)