Bukan hanya itu di Mesir, melainkan di seluruh dunia.
"Al-Azhar disebut sebagai salah satu benteng keislaman yang moderat," katanya.
Oleh karena itu, ribuan pelajar dari berbagai penjuru dunia datang menimba ilmu, tidak terkecuali dari Indonesia.
Dalam kesempatan ini, Wapres pun mengungkapkan bahwa hubungan antara Indonesia dan Al-Azhar sudah lama terjalin erat.
Sejak tahun 1850-an di Masjid Al-Azhar terdapat Ruwaq Jawi yang menjadi hunian para pelajar asal Indonesia.
“Salah seorang yang pernah tinggal di sana adalah Abdul Manan Dipomenggolo, beliau pendiri Pesantren Tremas Pacitan dan kakek dari Syeikh Mahfuzh Tremas,” kata Wapres.
Bahkan, kata Wapres jauh sebelum Mekkah mengenal percetakan, pada tahun 1883 di Kairo telah diterbitkan karya-karya ulama asal Indonesia.