Oleh karena itu, dari agama Islam TPQ maupun sekolah minggu, ada juga Budha dan Hindu dan agama lainnya bersama-sama membentuk karakter anak-anak ini menyesuaikan ajaran agama masing-masing, sehingga dia bisa menerjemahkan keagamaannya itu ke dalam kehidupan sehari-hari.
“Dengan cara itu, insyallah akan membuat Surabaya adem,” ujarnya.
Makanya, ia berpesan kepada pendidik TPQ dan sekolah minggu itu untuk tidak hanya menghafalkan Alquran. Namun, dia juga ingin anak-anak itu bisa mengamalkan isi di dalam Alquran itu.
“Akan jadi bimbang ketika dia sudah hafal surat-surat tapi tidak tahu maksudnya, sehingga dalam menerjemahkan ke kehidupan mereka tidak akan bisa. Berbeda jika dia sudah hafal dan mengerti maksudnya, maka dia bisa mengamalkan ilmunya itu di dunia nyata,” katanya.
Eri juga yakin apabila ini sudah berjalan dengan semua agama di dalamnya, maka Kota Surabaya ini akan menjadi kota yang baldatun thoyyibatun warobbun ghafur, kota yang aman dan damai. “Saya minta tolong kepada njenengan semuanya bapak-ibu, saya titip betul Kota Surabaya ini,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Forum Komunikasi Pendidikan Alquran (FKPQ) Indonesia di Kota Surabaya M. Alfan Nabhan menyampaikan apresiasi kepada Pemkot Surabaya, terutama Wali Kota Eri atas kebijakan memberikan insentif kepada guru ngaji ini. Tentunya, ini sangat berharga bagi para guru ngaji dan guru sekolah minggu.