Melalui kegiatan penelitian proses metalurgi ekstraksi yang ia lakukan, telah dikembangkan teknologi proses pengolahan ilmenit menjadi TiO2, proses pengolahan bijih nikel laterit kadar rendah menjadi konsentrat nikel dan logam nikel serta proses pengolahan bijih tembaga malasit menjadi logam tembaga.
Sementara itu, Sensus Wijonarko dalam naskah orasi Profesor Risetnya yang berjudul “Instrumentasi Neraca Air dalam Sistem Pengamat Hidrometeorologi Terpadu untuk Upaya Mewujudkan Ketahanan Air” menyampaikan, bahwa ketahanan air suatu kawasan dapat diperkirakan dari neraca air (keseimbangan antara kebutuhan dan ketersediaan air) yang didapat melalui metode perhitungan tentang pergerakan air.
Baca juga: LIPI Tawarkan Daur Ulang Limbah Masker
Perhitungan ini mampu mendapatkan neraca air dalam lingkup luas, tetapi perlu data yang lama dan ahli yang dapat melakukannya. Hasil rata-rata tersebut juga mempunyai beberapa kelemahan, di antaranya tidak dapat dipakai untuk melihat kondisi sesaat.
“Kesulitan tersebut dapat diatasi atau dikurangi dengan metode pengukuran neraca air memakai instrumentasi neraca air yang diharapkan dapat menjadi salah satu bagian dari sistem pengamat hidrometeorologi terpadu pada masa mendatang,” jelas Sensus.
Peneliti yang mendalami bidang Teknologi Instrumentasi tersebut menjelaskan bahwa instrumentasi neraca air ini juga dapat berfungsi sebagai kalibrator perhitungan neraca air dan bisa menjadi pembanding dengan instrumentasi neraca air di tempat-tempat lain yang menerapkannya terutama bila sudah terintegrasi dalam sistem pengamat hidrometeorologi global.