JAMBI – Perahu motor atau yang biasa di sebut perahu pompong di wilayah terpencil biasa digunakan oleh sebagian masyarakat sebagai transportasi sungai, dan lazimnya dikemudikan oleh orang dewasa yang mahir dalam soal mengemudikan perahu pompong.
Namun siapa sangka, di Desa Betara Kanan, Kecamatan Kuala Betara, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Jambi, Sahir bocah berusia 15 tahun yang menjadi pengemudi kapal pompong.
Baca juga: PPKM Darurat, Wagub DKI Pastikan Sekolah Tatap Muka Belum Diterapkan
Hampir setiap hari bocah tersebut mengemudikan kapal pompong, dengan membawa penumpang yang ingin pergi dari Desa Betara Kanan menuju Desa Tetangga yaitu Desa Parit Deli. Melawan arus dan ombak Sungai Parit Deli selama hampir lima menit ia lakukan setiap hari.
“Mengemudi kapal pompong ini sudah lima bulan,” kata Sahir, Jumat (9/7/2021).
Baca juga: Ingin Pembelajaran Tatap Muka, Penuhi Dulu 3 Syarat Ini
Sahir mengatakan, sebelumnya ia hanya berada di rumah dan beraktivitas seperti anak pada umumnya, bermain dan belajar. Pekerjaan ini pun sebetulnya adalah pekerjaan kakaknya, namun karena kakaknya telah mendapatkan pekerjaan lain, ia memilih untuk melanjutkan pekerjaan kakaknya tersebut menjadi pengemudi perahu pompong.
Sahir merupakan siswa kelas 3 di SMP 3 Betara, melihat peluang lain yang dipikir lebih bermanfaat dari sekedar bermain, ia memutuskan untuk memanfaatkan waktu dengan mencari pundi-pundi uang dengan mengemudikan perahu pompong
“Sehari bisa mendapatkan Rp70 ribu sampai Ro100 ribu,” sambungnya.
Namun demikian, kapal pompong yang ia gunakan ternyata bukanlah pompong milik pribadi, melainkan pompong milik pihak kecamatan yang ia gunakan. Namun Sahir tidak perlu menyetorkan penghasilan selama ia mengemudi pompon, hanya saja ia di minta oleh pihak kecamatan untuk menjaga pompong tersebut.
“Kangen suasana belajar tatap muka, bertemu dengan guru, bertemu dengan teman-teman sekolah,” pungkasnya.
Saleh yang juga seorang penambang perahu mengatakan, jika di masa pandemi Covid-19 para penumpang yang menggunakan perahu penyebrangan sungai semakin sepi, dalam sehari ia hanya bisa mengantongi uang Rp100 ribu, sedangkan sebelum adanya bawah corona, dalam sehari ia bisa meraup hasil hingga Rp500 ribu. (din)
(Rani Hardjanti)