Kenali 3 Profesor Riset BATAN, Simak Penelitiannya tentang Iptek Nuklir

Maylisda Frisca Elenor Solagracia, Jurnalis
Rabu 20 November 2019 13:29 WIB
Profesor Batan (Foto: Okezone.com)
Share :

JAKARTA - Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) memiliki 3 profesor riset baru. Ketiganya memiliki riset yang inspiratif bagi masa depan dan mahasiswa yang memiliki disiplin ilmu serupa.

Ketiga profesor itu dikukuhkan oleh Majelis Pengukuhan Profesor Riser BATAN. Kepala BATAN, Anhar Riza Antariksawan berharap, dengan bertambahnya jumlah profesor riset di BATAN, kegiatan penelitian, pengembangan, pengkajian, dan penerapan iptek nuklir semakin maju, khususnya di ketiga bidang tersebut yakni material keramik, kimia fisika, dan kimia radiasi.

“Dengan semua pengalaman riset yang telah dilakukan ketiga Profesor Riset ini, maka kita berharap akan dapat menjadi pendorong bagi para peneliti muda di Batan,” ujar Anhar di Auditorium Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi (PAIR)-BATAN, Kawasan Nuklir Pasar Jumat, Jakarta Selatan, dalam keterangan terulisnya, Rabu (20/10/2019).

Baca Juga: Ciptakan Pegar, Peneliti Utama Balitbang PUPR Dapat Gelar Profesor

Selain itu, Anhar juga berharap Transfer of knowledge dan kepakaran para Profesor Riset ini juga diharapkan dapat terus dilakukan kepada para peneliti muda Batan.

Dengan demikian keberlangsungan penelitian dapat dijaga dan mampu menghasilkan hasil riset yang lebih komprehensif dari tahun ke tahun.

Lalu siapa saja ketiga profesor tersebut? Yuk kenalan dengan ketiga 3 Profesor Riset BATAN.

1. Dani Gustaman Syarif sebagai profesor riset ke-53 di bidang material keramik.

Dani Gustaman Syarif mengawali kariernya di BATAN pada tahun 1984 di Pusat Pendidikan dan Pelatihan, kemudian pindah ke BATAN Bandung pada tahun 1985 hingga sekarang.

Sampai saat ini, Dani Gustaman telah menghasilkan 151 publikasi ilmiah baik yang ditulis sendiri maupun dengan penulis lain.

Baca Juga: Pengukuhan Guru Besar Termuda Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

Dalam orasinya, Dani mengatakan, nanofluida adalah kandidat fluida pendingin baru yang akan menggantikan fluida konvensional seperti air, etilon, glikol, minyak, dan lain-lain.

"Dari sisi ekonomi, nano fluida berpotensi diproduksi di Indonesia dari bahan lokal yang berlimpah, terutama mineral seperti bauksit, zirkon, yarosit, pasir besi, dolomit, dan monasit," kata Dani.

Menurut Dani, usaha produksi ini juga merupakan usaha peningkatan nilai tambah bahan lokal. Dalam aplikasinya di bidang reaktor, nanofluida berpotensi meningkatkan ekonomi dan keselamatan reaktor nuklir.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Edukasi lainnya