Kenapa Muda-mudi Swedia lebih Suka Tinggal Sendirian?

, Jurnalis
Senin 28 Oktober 2019 14:03 WIB
Mahasiswa di Swedia (BBC Indonesia)
Share :

Merdeka atau kesepian?

Meskipun banyak anak muda Swedia yang menikmati kebebasan finansial dan sosial yang mungkin terdengar seperti fantasi bagi banyak remaja seusia mereka di belahan bumi lain, ada kekhawatiran bahwa 'meninggalkan sarang' terlalu muda memiliki dampak buruk.

Karin Schulz, sekretaris umum lembaga amal Swedia yang bergerak dalam bidang kesehatan mental, Mind, berpendapat bahwa meskipun "merupakan hal yang luar biasa bagi anak muda untuk bisa hidup secara independen," hal itu dapat mengakibatkan dampak merusak bagi mereka yang tidak siap secara mental untuk tinggal sendirian.

"Beberapa di antara mereka belum siap melakukannya… Anda harus memikirkan banyak hal, membuat banyak keputusan, dan itu menjadi perjuangan tersendiri bagi banyak di antara mereka," jelasnya.

Ida Staberg, yang kini berusia 21 tahun, mengalami sejumlah masalah keuangan dan administrasi ketika ia pertama kali pindah ke apartemennya di Vällingby.

"Saya langsung sadar bahwa banyak yang harus saya pikirkan," ungkapnya.

"Pada awalnya, saya bahkan tidak tahu bagaimana cara membayar tagihan, lalu stres bagaimana caranya mencari uang sendirian. Tidak hanya itu, tapi juga ketika Anda kehabisan sabun cuci dan tidak bisa mencuci piring, atau kehabisan tisu toilet."

Menurut Schulz, "kesepian emosional" adalah tantangan lainnya. Meski sebagian besar remaja punya kehidupan sosial yang aktif dan jaringan pertemanan yang luas di media sosial, ia menuturkan bahwa beberapa di antara mereka bisa mengalami kesulitan untuk hidup sendiri jika tidak memiliki teman dekat atau saudara "yang bisa diajak mengobrol tentang kehidupan yang dijalani dan perasaan mereka".

Meskipun warga Swedia dikenal memprioritaskan kehidupan keluarga ketika anak-anak mereka masih kecil, Schulz merasa bahwa para orang tua seringkali lebih berfokus pada pemberian dukungan secara "praktis ketimbang emosional" saat anak-anak mereka pergi untuk hidup sendiri.

Penelitian tahun 2017 oleh Badan Statistik Swedia menemukan bahwa lebih dari 55% penduduk berusia 16-24 tahun tidak bersosialisasi dengan keluarga mereka sendiri.

"Kami sering mendengar bahwa mereka tidak punya sosok orang dewasa yang cukup berani dan terbuka untuk mengajak mereka berbicara dan mengambil inisiatif untuk benar-benar menanyakan kabar mereka."

Schulz mengatakan sulit untuk mengaitkan dengan jelas rasa kesepian dengan diagnosa kesehatan mental tertentu. Akan tetapi, dalam sepuluh tahun terakhir, jumlah warga berusia 16-24 tahun yang mendapatkan perawatan gangguan psikiatri di Swedia meningkat hingga hampir 70%, berdasarkan data yang dirilis Badan Nasional Kesehatan dan Kesejahteraan Swedia pada tahun 2018.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Edukasi lainnya