Perpustakaan Indonesia Terbanyak Kedua di Dunia

Koran SINDO, Jurnalis
Jum'at 15 Maret 2019 11:59 WIB
Perpustakaan (Foto: Ist)
Share :

Dalam rakor yang dihadiri oleh gubernur, wali kota, bupati, dan Dinas Perpustakaan seluruh Indonesia ini, Mendagri menyerahkan penghargaan kepada Gubernur Jambi Fachrori Umar sebagai pemimpin daerah yang berkomitmen dalam pengembangan perpustakaan berbasis inklusi sosial di wilayahnya.

Juga kepada Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini sebagai pemimpin daerah yang berkomitmen dalam inovasi layanan perpustakaan umum dan Sri Sultan Hamengku Buwono X atas kepedulian dan komitmen beliau terhadap pelestarian naskah kuno di lingkungan keraton Yogyakarta.

Minat Baca Rendah

Berdasarkan studi World Most Literate Countries yang dilakukan oleh Presiden Central Connecticut State University (CCSU) John W Miller, Indonesia berada di peringkat 60 dari 61 negara pada 2016. Dalam menyusun studi tersebut, Miller menggunakan lima kategori pendukung minat baca di sebuah negara, dua di antaranya adalah ukuran serta jumlah perpustakaan dan kebiasaan membaca koran.

Ia dan timnya memeriksa data dari 200 negara di dunia. Tetapi karena kurangnya sumber daya maka hanya memasukkan 61 negara dalam pemeringkatan. “Faktor-faktor yang kami selidiki menunjukkan betapa kompleksnya budaya serta kondisi dari negara-negara tersebut.

Tingkat literasi sangat penting bagi keberhasilan individu dan negara dalam ekonomi berbasis pengetahuan yang menentukan masa depan global,” urai John Miller, melansir dari situs resmi CCSU. Studi tersebut memadukan dua variabel, yakni uji pencapaian dan karakteristik perilaku literasi.

Faktor yang tidak bisa terpisahkan dari variabel tersebut adalah sistem pendidikan di suatu negara. Lima negara dengan peringkat tertinggi yakni Finlandia, Norwegia, Denmark, Islandia, dan Swedia, menunjukkan pengaruh tersebut.

Pengamat pendidikan dari Universitas Paramadina Totok Amin berpendapat, jumlah perpustakaan Indonesia terbanyak kedua di dunia, namun tidak sebanding dengan rendahnya minat baca karena konsep perpustakaan yang dikembangkan di Indonesia masih kuno.

“Karena konsep perpustakaannya kuno. Fokusnya ke jumlah buku. Bukan kegiatan dengan buku yang ada tersebut,” katanya ketika dihubungi KORAN SINDO. Totok melanjutkan, perpustakaan yang beroperasi di negara-negara maju bahkan sudah berubah.

Mereka tidak hanya tempat membaca, tetapi juga menjadi pusat kegiatan warga masyarakat dan berbagi macam-macam pengetahuan. Dia pun mendorong agar perpustakaan di Indonesia menjadi tempat warga untuk berkumpul dan beraktivitas, berbagi ilmu, pameran, peragaan, diskusi berbagai isu, berkarya, nonton bareng, ataupun sekadar ngopi bareng.

“Mendorong literasi itu tidak hanya tawarkan buku bacaan. Ciptakan tema yang relevan dengan warga sekitar setiap bulan. Buat suasana senang dan nyaman untuk semua usia datang ke perpustakaan,” harapnya.

(Neneng Zubaidah)

(Rani Hardjanti)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Edukasi lainnya