JAKARTA - Banyak orang ingin menghemat tagihan rekening listrik. Momen itulah yang dimanfaatkan oleh produsen alat penghemat listrik atau yang terkenal dengan nama energy saver. Tapi benarkan alat itu bisa 'mengakali' tagihan?
Saat ini tengah gencar promosi energy saver, baik di televisi maupun radio bahkan kios di toko-toko swalayan juga menjajakan alat penghemat rekening listrik. Alat itu diyakini bisa memangkas tagihan hingga 40%. Pada promosi visual, disertakan penurunan tagihan rekening, dengan menampilkan sebelum dan sesudah menggunakan alat tersebut, yakni dari Rp2.097.306 menjadi Rp1.076.851. Pada iklan tersebut juga ditampilkan foto sejumlah penjabat, tokoh serta artis berpose dengan alat penghemat listrik.
Di pasaran, alat penghemat listrik itu setidaknya terdapat dua jenis, yakni alat yang berisi kapasitor yang dipasang pada aliran listrik. Selain itu, juga ada alat yang berbentuk kartu atau disebut smart card. Cara kerja alat yang satu ini bisa memancarkan ion-ion penghemat listrik, BBM bahkan Gas.
Mengomentari fenomena tersebut, pengamat kelistrikan Benny Marbun justru mempertanyakan cara kerja alat. Jika pada kapasitor mengoptimalkan daya PLN menurutnya benar, tetapi tidak dengan mengurangi rekening.
"Kalau Anda membeli karena ingin menghemat rekening listrik, akan kecewa. Bahkan boro-boro menghemat, karena alat itu sendiri menggunakan listrik," ujar Benny dalam diskusi energi Sindo Trijaya bertajuk Kontroversi Alat Penghemat Energi Listrik, di Cikini, Jakarta, Kamis (16/8/2018).