Baca Juga: Perang Saudara Sudan Selatan Libatkan 9.000 Bocah
Dia mengungkapkan banyak masyarakat di Sudan Selatan tidak sepenuhnya menghargai pentingnya nilai pendidikan. Hal ini akibat dari kenyataan bahwa banyak orang Sudan Selatan masih konservatif dan sebagian besar masyarakat memiliki sedikit orang yang terpelajar.
"Kita belajar terlambat tapi kita perlu melipat-gandakan upaya kita. Kita perlu melompati negara lain, kita tak perlu mengikuti langkah awal mereka tapi kita mesti memulai dari tempat mereka sekarang dan bergerak maju. Itu berarti menyediakan pendidikan yang berkualitas buat setiap orang," kata dia.
Lebih lanjut, terkait proyek IEES, dirancang untuk meningkatkan daya serap kebanyakan anak lelaki dan perempuan yang rentan di sekolah dengan menyediakan kesempatan belajar yang berkelanjutan dan bertujuan meningkatkan hasil kegiatan belajar-mengajar, tingkat perlindungan, keuletan dan pemulihan sebanyak 300.000 anak lekai dan perempuan lagi yang hidup di tengah konflik rusuh.
Penjabat Direktur Pendidikan Sudan Selatan di Biro Lembaga Pembangunan Internasional Amerika Serikat untuk Afrika, Wendy Wheaton mengatakan sejak perang meletus, proyek tersebut telah menjadi saluran kehidupan untuk 165.000 anak lelaki dan perempuan yang bertekad untuk melanjutkan pelajaran.