JAKARTA - Beragamnya media mulai dari cetak, audio, audio visual dan online yang dari waktu ke waktu berjumlah semakin banyak, membuat produksi berita maupun hiburan yang dilakukan telah membentuk stereotip tubuh perempuan yang dianggap ideal menurut media.
Selain itu, jumlah stasiun televisi yang semakin banyak dan jam tayang yang nyaris 24 jam, membuat televisi menjadi media yang berpeluang besar “mendidik” masyarakat, di antaranya mempengaruhi stereotip tubuh perempuan yang dianggap ideal untuk tampil di panggung seni pertunjukan.
Hal ini lah yang melatarbelakangi Yustina Devi Ardhiani, mahasiswa Program Doktor Penciptaan dan Pengkajian Seni Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta tertarik meneliti untuk disertasinya yang berjudul “Satire Tubuh Perempuan Kelompok Seni Sahita di Panggung Seni Pertunjukan.” Ujian Terbuka disertasi ini dilakukan di Concert Hall, Program Pascasarjana ISI Yogyakarta, Selasa (24/10/2017).
Sahita yang menjadi subjek utama penelitian ini merupakan kelompok seni pertunjukan dari Surakarta, Jawa Tengah. Sahita terbentuk pada 2001 dan beranggotakan empat perempuan yang pada 2017 ini berusia antara 45-56 tahun.
Yustina menjelaskan, persoalan utama dalam penelitian ini yaitu Mengapa Sahita mencoba membebaskan diri dari stereotip tubuh perempuan dengan gaya satire di panggung seni pertunjukan?.
Lebih lanjut Yustina menuturkan, penelitian ini berada dalam ranah seni pertunjukan di Indonesia, dan dianalisis dengan mendialogkan konsep satire (Paul Simpson), konsep estetika sebagai politik dan konsep rezim seni (Jacques Rancière).
"Proses penelitian menggunakan metode life history (Sam Pack), yaitu merujuk pada penceritaan pengalaman-pengalaman hidup seseorang yang diceritakan oleh orang tersebut pada peneliti," tuturnya.
Sementara itu, gambaran singkat hasil penelitian ini yaitu Pertama, dalam berkarya, Sahita memadukan unsur-unsur visual (tampil sebagai perempuan lanjut usia yang lincah dan jenaka), suara (tembang/nyanyian, dialog, akapela), gerak (olah tubuh dan gerakan tari), bunyi (musik), dan “ruang kosong” atau “area main-main” yang terbuka di sepanjang pertunjukan.
Kedua, inspirasi karya Sahita berasal dari pengalaman pribadi para personel Sahita dan isu yang berkembang di masyarakat. Ketiga, Sahita memilih menggelar lakon dengan gaya satire dan menggunakan tawa sebagai perisai, karena dengan gaya satire Sahita bisa mengatakan apa yang sulit dibicarakan dalam kehidupan sehari-hari. Keempat, di tengah kegelisahan dalam melahirkan karya, keberadaan Sahita terombang ambing di antara tiga rezim seni yang tarik menarik di setiap karya mereka, yaitu rezim etik, rezim representatif, dan rezim estetik. Kelima, menanggapi dominasi televisi, Sahita memilih menerima, berkompromi, dan menikmati irama yang ditawarkan media televisi.
"Estetika sebagai politik terasa kuat pada saat Sahita tampil di panggung pertunjukan langsung, dan meskipun samar, masih terasa secara visual dalam penampilan Sahita di layar televisi. Komitmen Sahita dalam menyuarakan permasalahan kaum perempuan merupakan kategori politik yang selalu hadir dalam pertunjukan mereka, karena itu, estetika sebagai politik menyatu dalam karya-karya Sahita," paparnya.
Yustina Devi Ardhiani merupakan Dosen Magister Ilmu Religi dan Budaya, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Sebelumnya, ia mengambil Magister di program studi dan kampus yang sama tempatnya mengajar. Sementara studi Sarjana-nya ditempuh di jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Istri dari Yosafat Hermawan Trinugraha tersebut juga pernah mengenyam pendidikan di SMAN 4 Yogyakarta, SMPN 1 Minggir Sleman dan SD Kanisius Minggir Sleman.
Sejumlah penelitian telah dilakukanya seperti Parodi Paradigma Seniman Perempuan di Panggung Seni Pertunjukan (2011-2012), Pengembangan Model Pembelajaran Keindonesiaan pada Sekolah Dasar (2010-2011), Ingatan Masyarakat Yogyakarta tentang Peristiwa Penembakan Misterius 1982/83 (2006-2007), Kebertubuhan Dalam Pencak sebagai Pengelolaan Tubuh yang Rentan Kekerasan Dalam perguruan Pencak "Persatuan Hati" (2005), dan Solidaritas dan Jaringan Sosial Teater Buruh di Surakarta (2000).
(Susi Fatimah)