Ingin Capai Gelar Tinggi Harus Pertimbangkan Kebutuhan

Iradhatie Wurinanda, Jurnalis
Jum'at 22 April 2016 10:07 WIB
Foto: Ilustrasi (Shutterstock)
Share :

JAKARTA - Saat ini memiliki gelar atau titel tinggi di usia muda bukan lagi menjadi hal yang aneh. Sebaliknya, para generasi muda justru berlomba-lomba melanjutkan kuliah, bahkan sampai ke luar negeri. Mereka menilai, gelar yang tinggi merupakan sebuah prestasi prestisius dan berguna bagi karier yang dijalaninya.

Menanggapi fenomena tersebut, Rektor Bina Nusantara (Binus) University, Profesor Dr Ir Harjanto Prabowo, MM berpendapat, pelajar harus mengetahui kebutuhan sebelum melanjutkan studi. S-1 dan S-2, ucap dia, merupakan jalur yang bersifat akademis. Sedangkan untuk skill berada pada Diploma I,II, III, dan IV dan S-2 serta S-3 terapan.

"Nah, bagi yang tidak mau di jalur akademis, ada jalur profesi. Jadi tak perlu S-2 atau S-3," terangnya kala berbincang dengan Okezone di Binus University, Jakarta, baru-baru ini.

Binus sendiri baru saja mendapat mandat dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) untuk membuka program profresi insinyur (PPI). Ayah dua anak itu mengungkapkan, PPI dibutuhkan lantaran kenyataan di lapangan orang yang bekerja di bidang engineering harus memiliki sertifikat, sedangkan saat S-1 masih bertitel sarjana teknik.

"Melalui mandat tersebut Binus nanti boleh memberi gelar insinyur. Dengan menjadi insinyur profesional, mau kerja di mana saja diakui. Apalagi sekarang kan sudah MEA. Adanya MEA bukan berarti bebas, tetapi kalau mau kerja di level tertentu harus ada kompetensinya," ucapnya.

Binus sendiri merasa senang dipercaya pemerintah untuk membuka program profesi insinyur mulai tahun ajaran baru mendatang. Pasalnya, hanya 40 universitas di Indonesia yang diberi mandat tersebut. Di sisi lain, kata Harjanto, bukan hal yang mudah menyiapkan program insinyur secara cepat, namun dengan standar dan kualitas yang mumpuni.

"Kami boleh berbahagia karena dipercaya melalui mandat ini. Tetapi, mandat itu berarti kerja keras. Dosen para program insinyur bukan dosen biasa karena mereka juga merupakan insinyur profesional. Saat ini Binus mengejar untuk menyelesaikan fasilitas yang dibutuhkan, pengajar, hingga melengkapi kurikulum," tuturnya.

Terkait jumlah mahasiswa yang akan diterima, lulusan sarjana Teknik Elektro Universitas Dipenogoro (Undip) tersebut menjelaskan, harus menghitung dan membicarakan lebih lanjut. Sebab, jangan sampai jumlah mahasiswa tidak sebanding dengan kemampuan Binus.

"Jumlah sarjana teknik banyak, yang mau lulus juga banyak. Pemerintah sendiri dalam memberi mandat kepada swasta itu tidak diberi bantuan dana. Sehingga harus dipikirkan Binus mampunya menerima berapa mahasiswa. Juga disesuaikan dengan apa yang kami punya. Misalnya, di sini ada teknik industri, sipil, komputer, dan teknologi pangan. Sementara kami tak punya jurusan teknik peternakan, jadi untuk insinyurnya tidak bisa. Yang penting menyiapkan semuanya dengan teliti dan penuh kesungguhan," pungkasnya. (ira)

(Rifa Nadia Nurfuadah)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Edukasi lainnya