Selama kuliah di Istanbul, Yafiq tinggal di asrama kampus bersama dua temannya. Namun, keduanya bukan dari Indonesia, melainkan dari Rusia dan Turki. Dalam komunikasi sehari-hari, ketiganya lebih sering menggunakan bahasa Turki. Hal tersebut membuat dia semakin terbiasa dan fasih berbahasa Turki.
Sedangkan untuk soal makanan, Yafiq mengaku sering kangen dengan masakan Indonesia. Menurut dia, masakan Indonesia lebih enak karena banyak bumbunya. "Sedangkan di sini saya dihadapkan dengan makanan yang bumbunya minimalis," tuturnya.
Sementara perhimpunan pelajar Indonesia di Turki, kata Yafiq, menjadi keluarganya selama menimba ilmu di sana. Meski sehari-hari jarang bertemu lantaran kesibukan masing-masing, mereka tetap menyempatkan waktu untuk kumpul-kumpul.
"Memang di sini sifatnya koordinatif, karena mahasiswa Indonesia di seluruh Turki bisa mencapai 300 orang dan tersebar di berbagai kota. Kalau mengadakan acara atau kumpul bareng biasanya lebih sering dari perhimpunan pelajar di kota tersebut. Saya sendiri masuk ke perhimpunan pelajar Indonesia di Istanbul," tandasnya.
(Rifa Nadia Nurfuadah)