Suka-Duka Mahasiswa Indonesia Kuliah di Turki

Iradhatie Wurinanda, Jurnalis
Rabu 20 Januari 2016 19:02 WIB
Yafiq Mursyid (paling kanan) mantap memilih Turki sebagai tujuan studi meski rawan konflik. (Foto: dok. pribadi)
Share :

JAKARTA - Kuliah di luar negeri selalu meninggalkan kesan tersendiri bagi mahasiswa internasional, baik dalam keadaan suka maupun duka. Perbedaan budaya, bahasa, kebiasaan, sampai makanan menjadi beberapa faktor penyebab mahasiswa Indonesia sulit beradaptasi di luar negeri.

Seorang mahasiswa Indonesia di Turki bernama Yafiq Mursyid juga sempat mengalami culture shock pada awal kedatangannya di negara tersebut. Pasalnya, kehidupan di sana sudah banyak mengadopsi budaya barat.

"Untung saja di Turki mayoritas penduduknya beragama Islam, jadi tidak susah mencari masjid dan makanan halal. Tapi, saya sangat kewalahan terkait bahasa. Kebanyakan orang Turki paham bahasa Inggris, tapi kalau bicara tetap pakai Bahasa Turki. Padahal saya sama sekali tidak bisa bahasa Turki," papar Yafiq kepada Okezone, baru-baru ini.

Akibat belum bisa berbahasa Turki, penerima beasiswa Pemerintah Turki di Istanbul University itu sempat takut bepergian sendiri. Sebab, jika tersesat, maka sudah dipastikan dia tidak bisa meminta pertolongan. Beruntung, di Istanbul terdapat perhimpunan pelajar Indonesia yang bersedia mengajari bahasa Turki dasar untuk percakapan sehari-hari.

"Saya sungguh-sungguh mempelajari bahasa Turki karena tidak mungkin terus-terusan menyusahkan orang lain. Kurang lebih belajar selama enam bulan. Yang penting itu untuk menawar kalau lagi belanja," ucap mahasiswa pascasarjana itu.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Edukasi lainnya