Mengelola sekolah dengan 103 siswa di daerah terluar Indonesia tidaklah mudah. Pria kelahiran Tuban, 11 Agustus 1977 itu bercerita, fasilitas sudah tentu minim. Meski bangunan sekolah sudah cukup permanen, para guru kekurangan perlengkapan mengajar seperti alat peraga.
Namun, keterbatasan tidak menyurutkan semangat Agus untuk terus mengajar. Apalagi kesadaran pendidikan masyarakat kian baik. Hal itulah yang memotivasinya mengelola waktu seoptimal mungkin untuk mendidik, kuliah dan keluarga.
"Kesulitan sudah pasti ada. Tapi kan sudah kewajiban untuk terus belajar. Belajar juga tidak mengenal batas usia. Apalagi untuk guru yang harus selalu meningkatkan kompetensinya," tegas Agus.
Pria yang sedang menanti kelahiran anak kedua itu kini tinggal menunggu yudisium dari UT. Sebagai tugas akhir, Agus melakukan penelitian tindakan kelas (PTK). Dia meneliti apa saja kesulitan belajar anak didiknya di kelas, menganalisa penyebabnya hingga merumuskan solusinya.
Jika semua lancar, maka tidak lama lagi Agus akan menjadi sarjana. Namun bagi mantan guru SDN 04 di Pulau Derawan, Berau, Kaltim tersebut, sarjana bukanlah tujuan akhir.
"Saya ingin terus meningkatkan kompetensi. Ingin kuliah lagi mengambil studi S-2," pungkasnya.
(Rifa Nadia Nurfuadah)