MAHASISWA identik dengan rumah kos. Tinggal jauh dari orangtua dan belajar mandiri. Tetapi, tidak semua mahasiswa merupakan perantau. Banyak juga yang tempat tinggalnya berdekatan dengan kampus, atau mampu menjangkau kampus dengan kendaraan. Mereka biasa disebut komuter.
Mahasiswa komuter ini enggak hanya menetap di rumah orangtua, bisa juga nebeng di rumah saudara yang terdekat dari kampus. Selain jarak yang relatif dekat, salah satu alasan menjadi mahasiswa komuter adalah biaya. Dengan tetap tinggal di rumah, mahasiswa bisa menekan pengeluaran untuk sewa rumah kos dan makan sehari-hari serta dialihkan sebagai ongkos transportasi.
Nah, jika galau memutuskan apakah tetap tinggal di rumah atau mencoba ngekos saat kuliah, pertimbangkan beberapa poin berikut ini.
Kampus
Jika beruntung mendapat kampus yang dekat dari rumah, pilihan tetap tinggal bersama orangtua memang paling logis. Meski mampu berhemat, ada beberapa hal yang membuat mahasiswa komuter tidak mampu merasakan nuansa tradisional kampus, khususnya pengalaman sebagai anak kos. Mahasiswa komuter juga sering kesulitan mendapat teman belajar, sebab biasanya anak kos akan berkumpul di sore dan malam hari untuk belajar bersama. Di waktu yang sama, bisa jadi mahasiswa komuter sudah harus mengejar transportasi umum menuju rumahnya.
Biaya transportasi
Sering kali, biaya transportasi untuk menjadi mahasiswa komuter cenderung lebih tinggi ketimbang menyewa kamar kos. Ongkos angkutan umum selalu naik seiring melambungnya harga bahan bakar. Jika menggunakan kendaraan sendiri, pengeluaran untuk membeli bensin pun akan meningkat. Belum lagi pos biaya parkir dan asuransi.
Sementara itu, mahasiswa kos terkadang cukup berjalan kaki ke kampus atau ke berbagai tempat pertemuan ekskul dan kelompok belajar. Selain lebih sehat karena dipaksa berolahraga setiap hari, budget untuk transportasi bisa ditabung atau dialihkan untuk keperluan lain, deh.
Pengalaman di luar perkuliahan
Tinggal di rumah orangtua atau saudara tentu membuat mahasiswa harus disiplin, misalnya soal waktu paling larut untuk tiba di rumah. Sedangkan jam malam di tempat kos biasanya tidak seketat yang diberlakukan di rumah sendiri. Tidak heran, banyak mahasiswa terbiasa hang out hingga larut malam. Belum lagi jika sibuk merencanakan kegiatan, bergadang di kampus sudah tidak aneh lagi.
Menginap di tempat teman bisa jadi salah satu solusinya. Tetapi, jika terlalu sering tentu akan menimbulkan perasaan tidak enak, apalagi jika menetap di rumah saudara. Akibatnya, mahasiswa komuter pun enggak bisa sering-sering menyetujui ajakan nonton midnight atau kumpul-kumpul sambil barbekyu di malam hari.
Tradisi kos atau asrama
Satu keasyikan tinggal di kos atau asrama adalah tradisi yang rutin dijalankan setiap tahun. Misalnya, kerja bakti, pesta penyambutan penghuni baru, masak dan makan bareng, hingga beribadah bersama. Nah, mahasiswa komuter tentu enggak akan merasakan keseruan tinggal bareng dengan puluhan teman di satu atap.
Apa pun pilihanmu, tetap pertimbangkan semua baik dan buruknya, ya!
(Rifa Nadia Nurfuadah)