
Keberhasilan Farid menyelesaikan pendidikan sarjana tanpa skripsi konvensional bukan berarti ia lulus tanpa penelitian. Ia memilih jalur penyelesaian studi melalui publikasi artikel ilmiah, sesuai ketentuan yang berlaku di perguruan tinggi.
Artikel penelitiannya dipublikasikan melalui jurnal terindeks Sinta 2. Karya tersebut menjadi bukti bahwa pengembangan media pembelajaran berbasis permainan digital dapat diangkat menjadi penelitian akademik.
Penelitian Farid menggabungkan pengembangan teknologi permainan, pembelajaran matematika, pengenalan budaya lokal, dan upaya meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. Pendekatan lintas bidang ini membuat penelitiannya tidak hanya berfokus pada teori, tetapi juga menghasilkan media pembelajaran yang dapat diuji dalam lingkungan pendidikan.
Prestasi tersebut turut mengantarkannya menjadi wisudawan terbaik Untidar periode ke-75 dengan IPK 3,99. Dia meraih IPK hampir sempurna.
Di balik pencapaian akademiknya, Farid berasal dari keluarga sederhana. Ayahnya bekerja sebagai montir di sebuah bengkel, sedangkan ibunya merupakan ibu rumah tangga.
Selama kuliah, Farid menerima beasiswa Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah. Kesempatan tersebut dimanfaatkannya untuk menyelesaikan pendidikan sekaligus membanggakan orang tuanya sebagai sarjana pertama di keluarga.
(Djanti Virantika)
Edukasi Okezone hadir dengan Informasi terpercaya tentang pendidikan, tryout ujian, dan pengembangan karier untuk masa depan yang lebih baik