Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Manfaat Belajar AI, Bisa Pertajam Pengambilan Keputusan Pemimpin Bisnis

Rivan Nasri Rachman , Jurnalis-Kamis, 08 Oktober 2026 |19:14 WIB
Manfaat Belajar AI, Bisa Pertajam Pengambilan Keputusan Pemimpin Bisnis
NUS Business School. (Foto: Rivan Nasri Rachman/Okezone)
A
A
A

SINGAPURA - Transformasi digital dan adopsi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) kini merambah dunia pendidikan tinggi manajemen di Asia Tenggara. NUS Business School mengambil langkah inovatif dengan mengintegrasikan teknologi AI ke dalam kurikulumnya.

Langkah ini dirancang khusus untuk menguji serta mempertajam kemampuan para calon pemimpin bisnis dalam merumuskan pertanyaan yang tepat di tengah arus informasi.

NUS Business School

Selama ini, institusi pendidikan bisnis mengandalkan studi kasus konvensional yang menyajikan data secara lengkap kepada mahasiswa untuk dianalisis.

Namun, kehadiran teknologi mengubah lanskap tersebut secara drastis. Mulai Januari 2026, NUS Business School memperkenalkan pendekatan berbasis simulasi AI untuk menciptakan skenario bisnis yang dinamis dan penuh ketidakpastian.

Simulasi canggih ini dikembangkan menggunakan platform ScholAIstic oleh NUS AI Centre for Educational Technologies (AICET). Kolaborasi antara AICET dan Dr. Emir Hrnjic selaku Dosen Senior Departemen Finance NUS Business School menghasilkan pengembangan persona eksekutif yang disesuaikan dengan realitas dunia manajemen. Program ini telah diuji coba kepada hampir 100 mahasiswa tingkat MBA dan Executive MBA di Singapura serta Jakarta.

1. Mengasah Naluri Manusia Melalui Wawancara Eksekutif Virtual

Dalam sesi simulasi, mahasiswa dihadapkan pada situasi di mana mereka harus mewawancarai jajaran direksi virtual seperti CEO, CFO, hingga CPTO. Setiap peran memberikan sudut pandang unik terhadap permasalahan yang sama, menuntut mahasiswa untuk mengevaluasi informasi dan mengambil kesimpulan sendiri. Usai wawancara, mahasiswa memperoleh umpan balik spesifik untuk menyempurnakan teknik bertanya mereka pada sesi berikutnya.

Dr. Hrnjić menjelaskan bahwa tujuan utama metode ini bukanlah menggantikan insting manusia, melainkan mengasahnya.

“Tujuannya bukan menggantikan insting manusia dengan AI, melainkan mengasahnya dengan membantu mahasiswa lebih cermat dalam menentukan informasi apa yang perlu ditanyakan dan dipercaya,” ujar Dr. Hrnjić.

Pendekatan ini dinilai jauh lebih merefleksikan kompleksitas pengambilan keputusan di dunia nyata.

 

Halaman:
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita edukasi lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement