Namun seluruh perjuangan tersebut terbayar ketika ia dinyatakan lulus dan mengenakan toga wisuda. Momen tersebut menjadi pengalaman yang sangat berkesan dan penuh haru.
“Saya bersyukur sekali sampai tidak bisa bicara. Waktu dipakaikan toga, saya terharu. Ini bukan cuma ijazah, tapi doa yang akhirnya dijawab. Umur 72 tahun ternyata masih bisa dipakai Tuhan,” katanya.
Keberhasilannya tidak lepas dari dukungan keluarga, gereja, dan lingkungan kampus yang terus memberikan semangat selama masa perkuliahan.
“Tuhan yang kasih sehat setiap hari. Anak dan menantu mendukung, gembala dan teman-teman gereja selalu mendoakan. Dosen-dosen STT IKAT juga sabar dan tidak membeda-bedakan umur,” tuturnya.
Melalui kisahnya, Suhaida ingin memberikan pesan kepada generasi muda maupun mereka yang merasa sudah terlambat untuk mengejar pendidikan atau mewujudkan impian.
“Buat anak muda, jangan tunda kuliah. Gereja perlu orang yang belajar dengan benar. Buat yang seusia saya, tidak ada kata terlambat kalau Tuhan yang panggil. Kalau saya bisa lulus umur 72 tahun, kalian juga pasti bisa mulai sekarang. Tua itu umur, semangat jangan ikut tua,” pesannya.