Pendekatan ini, lanjut Ezra, sejalan dengan berbagai kajian global. Laporan World Economic Forum (WEF) menunjukkan bahwa kemampuan seperti pemecahan masalah, pengelolaan diri, dan adaptabilitas menjadi keterampilan utama yang dibutuhkan di dunia kerja masa depan, terutama di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan AI.
“Nah, untuk membangun ketangguhan itu tidak bisa terlepas dari kesejahteraan emosional (wellbeing) siswa,” katanya. Ezra menyoroti tekanan digital yang semakin dirasakan generasi muda, mulai dari paparan layar yang berlebihan hingga distraksi media sosial yang memengaruhi fokus, relasi sosial, dan kesehatan mental.
Untuk merespons hal tersebut, NJIS menerapkan lingkungan belajar bebas ponsel. Kebijakan ini bertujuan memberi ruang bagi siswa untuk berinteraksi secara langsung, bekerja sama, dan membangun hubungan sosial yang lebih baik di lingkungan sekolah.
“Kami ingin siswa belajar mengelola teknologi secara sadar, agar kehidupan digital tidak mengambil alih ruang belajar dan relasi mereka,” ungkap Ezra.
Relasi yang sehat antara guru dan siswa juga menjadi fondasi penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang suportif. Melalui pembelajaran sosial-emosional (Social Emotional Learning) atau SEL yang diwujudkan dalam keseharian, siswa didorong untuk mengenali emosi, membangun empati, dan merasa dihargai sebagai individu.