Jika suatu saat satu hari di Bumi benar-benar menjadi 25 jam, sistem penanggalan dan pengukuran waktu harus disesuaikan. Tak hanya itu, perubahan tersebut juga akan memengaruhi ritme biologis makhluk hidup.
Manusia dan sebagian besar organisme hidup memiliki ritme sirkadian 24 jam yang mengatur siklus tidur, produksi hormon, hingga fungsi metabolisme. Ritme ini berevolusi mengikuti panjang hari di Bumi. Perubahan durasi hari berpotensi mengganggu keseimbangan biologis, seperti yang terjadi pada pekerja shift malam atau orang yang mengalami jet lag.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa gangguan ritme sirkadian dapat meningkatkan risiko masalah metabolisme, gangguan suasana hati, hingga penyakit jantung. Meski demikian, jika perubahan panjang hari terjadi secara bertahap dalam skala jutaan tahun, organisme hidup diperkirakan akan beradaptasi melalui proses evolusi, meski tidak tanpa tantangan.
Dengan demikian, meski hari 25 jam secara ilmiah mungkin terjadi, hal itu bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan saat ini. Perubahannya terlalu lambat untuk memengaruhi kehidupan manusia modern.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)