JAKARTA - Artis, Aktor, Presenter TV serta pengamat komunikasi nasional Charles Bonar Sirait menyandang gelar doktor setelah lulus menjalani Sidang Promosi Terbuka Program Doktor Ilmu Komunikasi Sekolah Pascasarjana Universitas Sahid Jakarta pada Jumat 16 Agustus 2024.
Mengangkat judul disertasi, Dualitas Struktur di balik Praktik Pemberitaan dalam melanggengkan Eksistensi Korporasi Charles menjelaskan praktik strukturasi di salah satu media massa nasional terjadi untuk mendukung perjuangan media tersebut meloloskan sistem Multi Mux atau Hybrid Mux pada RUU Penyiaran.
Menurut Charles penelitian disertasinya bertujuan untuk mengungkap dualitas struktur pada salah satu media massa nasional serta mengungkap motif ekonomi politik praktik pemberitaannya sebagai bagian dari perjuangan agar media massa nasional tersebut tetap ekisis di era digital.
Charles Bonar Sirait yang merupakan peraih Panasonic Award untuk kategori “The Best Male TV Presenter” menggunakan Teori Ekonomi Politik Vincent Mosco, Teori Strukturasi Anthony Giddens dan Teori Analisa Wacana Kritis Teun A.van Dijk untuk menjawab masalah penelitian.
Melalui analisis teks, kognisi sosial dan konteks sosial Charles menyimpulkan bahwa pemberitaan media massa nasional yang ditelitinya tersebut sarat akan kepentingan dan agenda korporasi untuk mendominasi ruang publik (public sphere).
Charles yang merupakan penulis buku best-seller The Power of Public Speaking dalam wawancaranya menjelaskan bahwa Dominasi tersebut terjadi karena dukungan struktur dalam bentuk concerning dan enabling pada agen yang melahirkan dukungan dan loyalitas agen.
Sidang Promosi Terbuka tersebut dipimpin oleh Marlinda Irwanti Purnomo selaku Rektor Universitas Sahid Jakarta, didampingi Titi Widaningsih selaku promotor dan wakil rektor Universitas Sahid Jakarta, serta Mikhael Dua dan Udi Rusadi selaku co-promotor, Sunarto, Heri Budianto serta Bagus Sudarmanto selaku penguji.
Charles menjelaskan novelty atau kebaruan penelitiannya adalah telah terjadinya praktik dualitas struktur yang dilakukan untuk mendegradasi kepentingan publik yang anomali dalam pandangan kritis
(Feby Novalius)