JAKARTA - Tahukah kamu, penyakit lupus disebut juga si seribu wajah? Ini adalah jenis penyakit autoimun. Autoimun adalah penyakit gangguan respon imun tubuh di mana sistem imun gagal mengenali kuman sebagai musuh justru menyerang jaringannya sendiri.
Menurut penelitian, terdapat 80 sampai dengan 100 jenis penyakit autoimun yang dapat diidentifikasi. Salah satu penyakit autoimun yang sedang naik daun adalah Lupus. Lupus Eritromatosus Sistemik (Systemic Lupus Erythematosus) (SLE) dikenal juga sebagai penyakit seribu wajah ini merupakan jenis autoimun kronis yang belum dapat dipastikan penyebabnya. Jumlah odapus semakin meningkat saat ini, di Indonesia diperkirakan mencapai 1.5 juta orang atau 0.5% dari jumlah penduduk. Beberapa penelitian menduga faktor pencetus terjadinya Lupus dapat berupa genetik, gaya hidup, hormonal, hingga faktor lingkungan menurut Miranda tahun 2018.
Apa itu Flare dan Gejalanya ?
Flare adalah kondisi dimana seorang penyandang autoimun merasakan gejala yang lebih berat dan mengganggu. Kondisi ini dapat datang dan pergi tanpa bisa di prediksi sebelum terjadi. Adapun durasi flare pada odapus tidak bisa diprediksi, bisa hanya beberapa hari atau hitungan minggu atau lebih dari itu (Costenbader, 2023).
Odapus (Orang dengan penyakit Lupus) terkadang memiliki tanda-tanda sebelum kekambuhan, seperti sering merasa kelelahan, demam, ruam-ruam, sakit kepala atau sakit perut, pusing, nyeri pada bagian tubuh/persendian dan mengalami kerontokan rambut (CDC, 2022).
Cara Seimbang Menanganinya
Penanganan kondisi autoimun agar tak selamanya bergantung dengan obat-obatan dikenal dengan pedoman LDHS atau Lima dasar hidup sehat, yakni bentuk upaya dalam mengendalikan penyakit dan meningkatkan kualitas hidup para penderita autoimun agar mencapai kesehatan yang seimbang. Komponen tersebut antara lain gaya hidup sehat, aktif secara mandiri, manajemen stress, terus belajar dan Hidup Positif (Autoimun.id, 2020).
Pada komponen gaya hidup sehat untuk penderita autoimun yang seringkali dikhawatirkan adalah pemilihan makanan sehat. Hal ini dikarenakan ada beberapa makanan yang dapat langsung berefek ke sistem pencernaan odapus. Sehingga makanan yang dikonsumsi diharapkan dapat mencegah peradangan lebih lanjut. Menurut beberapa penelitian, penerapan diet mediterania yang terkenal dengan pola makan sehat direkomendasikan oleh Dietary Guidelines for Americans untuk mencegah penyakit kronis dan terbukti dapat menurunkan risiko kejadian SLE (Castro-Webb et al, 2021). Pola makan diet mediterania ini mengutamakan bahan makanan yang kaya akan karbohidrat kompleks, mineral dan vitamin serta kaya kandungan antioksidan (Islam, Md Asiful et al, 2020). Sedangkan, di Indonesia diet yang mirip prinsipnya dengan diet mediterania dikenal dengan Pedoman Gizi Seimbang. Prinsip diet ini yaitu dengan mengonsumsi 5 jenis bahan makanan antara lain sumber karbohidrat sebagai makanan pokok, sumber protein sebagai lauk pauk, konsumsi buah dan sayur, membatasi konsumsi makanan manis, asin dan berminyak, dengan tambahan melakukan aktivitas fisik, menerapkan pola hidup bersih dan sehat serta memantau status giz (Kemenkes, 2022). Tapi, apakah prinsip diet ini bisa diterapkan oleh orang dengan penyakit Lupus ?
Jawabannya adalah bisa dan dapat disesuaikan
Bukan sekedar mitos bahwa memenuhi kebutuhan gizi secara seimbang pada penderita autoimun dapat membantu meringankan efek inflamasi (peradangan) akibat penyakit SLE itu sendiri dan komplikasi efek samping pengobatan (Islam, Md Asiful et al, 2020). Sebenarnya, pemenuhan kebutuhan energi dan zat gizi untuk penderita lupus hampir sama dengan orang sehat pada umumnya. Namun, hal tersebut bergantung pada kondisi odapus dikarenakan masa flare pada penyakit autoimun melibatkan berbagai organ (peradangan sistemik) sehingga kebutuhan energi (makro dan mikro) (Miranda, 2018).
Diet Gizi seimbang memang tidak secara khusus menghindari bahan makanan tertentu, dan penerapannya bisa diaplikasikan untuk seumur hidup. Namun untuk odapus beberapa makanan dapat menjadi perhatian. Berikut adalah anjuran dari berbagai sumber bahan makanan menurut beberapa penelitian.
• Karbohidrat
Karbohidrat merupakan zat gizi makro yang berfungsi sebagai penghasil energi dan berperan dalam proses vital dan regulasi tubuh serta erat kaitannya dengan respon imun. (Islam, Md Asiful et al, 2020). Konsumsi dalam jumlah moderat sangat dianjurkan, sekitar 50-60% dari kebutuhan kalori total dan tidak boleh melebihi 25% dari kalori harian (Dokter Imun, 2018). Intake karbohidrat yang berlebih erat kaitannya dengan kejadian obesitas dan memicu jenis penyakit tidak menular seperti jantung dan diabetes melitus (Islam, Md Asiful et al, 2020). Penelitian mengatakan bahwa terlalu sering mengonsumsi makanan manis > 67% karbohidrat dapat meningkatkan risiko kejadian SLE (Systemic Lupus Erythematosus) pada seseorang (Castro-Webb et al, 2021). Maka dari itu odapus harus cermat dalam membatasi konsumsi karbohidrat. Pilihlah sumber karbohidrat yang berkualitas baik untuk pencernaan yaitu sumber karbohidrat kompleks yang kaya akan serat seperti beras merah, oat free gluten, kacang-kacangan, dan umbi-umbian. Konsumsi serat sekitar 27-29 gr/hari menjadi penyumbang mikrobioma usus yang beragam dan sehat (Ballantyne, 2022). Kemudian berusaha menghindari karbohidrat tersembunyi dalam makanan atau minuman kemasan (pemanis buatan), menghindari karbohidrat olahan seperti tepung, mie, biskuit, pasta dan sejenisnya. Bentuk karbohidrat olahan ini kaya akan gluten yaitu protein yang tekandung dalam biji-bijian. Gluten dapat ditemukan di makanan olahan gandum seperti tepung (roti putih, mie, pasta), dan bumbu masak instan. Orang dengan sensitivitas gluten yang tinggi akan menimbulkan gangguan pencernaan seperti diare, kembung dan nyeri pada perut. Selain itu dengan bentuk olahan tersebut juga lebih cepat dalam menaikkan kadar glukosa darah sehingga dapat memicu peradangan atau flare (Dokter Imun, 2018).
• Lemak
Meningkatnya kejadian penyakit autoimun dan proses peradangan pada Lupus berhubungan dengan adanya perubahan profil lipid pada odapus (Miranda, 2018). Konsumsi makanan yang tinggi kalori dapat memicu kenaikan berat badan dan kerusakan pada respon imunitas tubuh. Obesitas selalu dikenal dengan fase penimbunan lemak akibat efek jangka panjang dari tidak menjalankan diet seimbang dengan baik. Sehingga meningkatkan risiko komplikasi seperti diabetes, hipertensi, jantung dan penyakit autoimun (Kemenkes, 2023). Hal ini sejalan dengan penelitian Pagliai et al (2022) bahwa penderita lupus lebih banyak yang mengalami obesitas, dislipidemia dan diabetes. Tak selalu dikaitkan dengan makanan namun juga pengobatan kortikosteroid yang dikonsumsi jangka panjang nyatanya berpengaruh dengan kenaikan profil lipid dan kenaikan berat badan penderitanya (Miranda, 2018). Lalu bagaimana cara bijak mengonsumsi lemak ini?
Konsumsi lemak dalam jumlah moderat 25-30% dari total kalori kebutuhan, dan bijak dalam pemilihan jenisnya sangat membantu para odapus untuk mencapai keseimbangan kebutuhan gizi (Dokter Imun, 2018). Penelitian menunjukan konsumsi asam lemak omega 3 (PUFA), EPA dan DHA terbukti secara efektif menurunkan level biomarker inflamasi dan menurunkan gejala kelelahan serta depresi pada odapus (Islam, Md Asiful et al, 2020). Konsumsi makanan tinggi lemak jenuh justru sebaliknya dapat meningkatkan respon inflamasi pada lupus (Kemenkes, 2023). Sumber lemak omega-3 dan omega-6 yang disarankan antara lain minyak ikan, minyak kedelai, canola oil, olive oil, margarin, ikan laut (jika tidak ada alergi), daging, dan lainnya. (Islam, Md Asiful et al, 2020). Namun konsumsilah daging merah secara bijak ya, serta hindari makanan dengan kandungan lemak jenuh tinggi lainnya baik jenis maupun dengan cara pengolahannya (digoreng dengan minyak banyak dan berkali-kali pemakaian).
• Protein
Protein berperan sebagai zat pembangun kekebalan tubuh dalam melawan infeksi. Kekurangan asupan protein dapat menyebabkan kelelahan, apatis, dan respon imunitas seseorang yang buruk (Rumawas, 2021). Konsumsi protein dalam jumlah moderat 15-20% dari kebutuhan energi total sangat dianjurkan untuk mempertahankan imunitas. Pada penyakit lupus dengan komplikasi ginjal, konsumsi protein dengan 0.6 gr/kgBB/hari dapat memperbaik kondisi filtrasi glomerulus ginjal. Contoh sumber protein sepert telur, daging, susu, ikan, kacang-kacangan termasuk tahu dan tempe (Islam, Md Asiful et al, 2020). Tempe merupakan sumber probiotik yang menjaga keseimbangan mikroba sehat dalam saluran cerna. Namun, pada penderita lupus ada beberapa bahan makanan sumber protein yang sebaiknya dihindari seperti protein susu kasein dan laktosa, kandungan asam sitat yang terdapat pada kacang-kacangan menurut Ramayulis tahun 2021.