Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

10 Cerita Dongeng Anak Pendek Sebelum Tidur

Bertold Ananda , Jurnalis-Kamis, 10 Agustus 2023 |15:03 WIB
10 Cerita Dongeng Anak Pendek Sebelum Tidur
A
A
A

JAKARTA - Setidaknya ada 10 cerita dongeng anak sebelum tidur yang sudah sepatutnya dibacakan untuk sang buah hati. Terlebih ketika malam hari sebelum menjelang tertidur.

Dongeng termasuk dalam karya sastra lama sebagai wujud tradisi lisan yang mengakar kuat di Tanah Air. Ada begitu banyak ragam dongeng yang menyebar dari orang ke orang maupun dibukukan jadi karya tulisan. Cerita dongeng biasanya mengisahkan kejadian fiksi atau khayalan.

Tokoh dalam cerita dongeng biasanya imajinatif berupa hewan atau makhluk lainnya. Oleh karenanya, cerita dongeng sering diminati kalangan anak-anak karena pada usianya anak-anak senang berimajinasi tentang hal-hal yang seru dan ajaib.

Anak-anak yang biasa membaca atau dibacakan dongeng cenderungnya memiliki konsentrasi dan kemampuan mendengarkan yang baik. Selain itu juga ingatannya akan kuat, kaya kosakata, dan pemahaman bahasa yang baik.

 BACA JUGA:

Sebab, cerita dalam dongeng bisa menembus jauh dalam alam pikiran anak-anak. Selain itu, anak-anak akan mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang budaya dan masyarakat di sekitar mereka.

Berikut Okezone sudah merangkum dari beberapa sumber, Kamis (10/08/2023), terkait 10 cerita dongeng anak pendek sebelum tidur.

1. Buaya yang Serakah

Di pinggiran sungai ada seekor Buaya yang sedang kelaparan, sudah tiga hari Buaya itu belum makan. Perutnya terasa lapar sekali. Mau tidak mau hari ini dia harus makan sebab kalau tidak bisa-bisa ia akan mati kelaparan.

Buaya itu segera masuk ke dalam sungai dan berenang perlahan-lahan menyusuri sungai mencari mangsa.

Buaya lalu melihat seekor Bebek yang juga sedang berenang di sungai, Bebek tahu dia sedang diawasi oleh Buaya, dia pun segera menepi. Melihat mangsanya akan kabur Buaya segera mengejar dan akhirnya Bebek pun tertangkap.

“Ampun Buaya, tolong jangan mangsa aku, dagingku sedikit, kenapa kamu tidak memangsa Kambing saja di dalam hutan,” ucap Bebek seraya menangis ketakutan.

“Baik, sekarang kau antar aku ke tempat persembunyian Kambing itu,” perintah buaya dengan menunjukkan taring yang sangat tajam.

Tidak jauh dari tempat itu ada lapangan hijau tempat Kambing mencari makan, dan benar saja di sana ada banyak Kambing yang sedang lahap memakan rumput.

“Pergi sana, aku mau memangsa Kambing saja,” ujar Buaya. Bebek yang merasa senang, kemudian berlari dengan kecepatan penuh.

Setelah mengamati beberapa lama, akhirnya Buaya mendapatkan satu ekor anak Kambing yang siap disantap. “Tolong, jangan makan aku, dagingku tidak banyak, aku masih kecil, kenapa kamu tidak makan Gajah saja yang dagingnya lebih banyak, aku bisa mengantarkan kamu ke sana”. ujar Anak Kambing.

“Baik, segera antarkan aku ke sana!” Anak Kambing itu mengajak buaya ke tepi danau yang luas, di sana ada anak Gajah yang besar. Buaya pun langsung mengejar dan menggigit kaki anak Gajah itu.

Walau besar, tapi kulit Gajah itu sangat tebal, jadi tidak bisa melukainya. Anak Gajah itu berteriak meminta tolong kepada ibunya. Buaya terus saja berusaha menjatuhkan anak Gajah itu, tapi sayangnya tetap tidak bisa.

Mendengar teriakan anaknya, sekumpulan Gajah mendatangi dan menginjak Buaya itu sampai tidak bisa bernafas.

Buaya itu tidak bisa melawan, karena ukuran ibu Gajah itu sangat besar, ditambah dia juga lemas karena belum makan. Buaya itu kehabisan tenaga dan mati.

2. Kancil dan Buaya

Cerita ini berawal saat si Kancil yang sedang berjalan-jalan di hutan merasa kelaparan. Ia pun bergegas dan mencari makan. Si Kancil teringat bahwa di pelosok hutan terdapat lahan timun yang amat segar. Tapi sayangnya, lahan timun tersebut terpisahkan oleh sebuah sungai yang dalam dan deras arusnya.

Si Kancil tidak bisa berenang menyeberangi sungai tersebut. Ditambah lagi sungai tersebut ditempati oleh kawanan buaya.

Kancil tidak memedulikan hal tersebut dan tetap menghampiri sungai untuk mencari solusi atas permasalahannya.

Buaya yang melihat kancil pun penasaran akan gerak-gerik Kancil yang mengendap-endap di pinggir sungai. Ia pun bertanya tentang apa yang sedang Kancil lakukan di daerahnya. Kancil jujur saja bahwa ia sedang berusaha mencari cara untuk menyeberangi sungai karena di seberang sana terdapat perkebunan dengan lahan timun yang dirawat dengan baik. Kancil sangat ingin menyantap timun-timun segar tersebut. 

Mendengar penjelasan Kancil, Buaya akhirnya menawarkan bantuan untuk mengantarnya ke seberang sungai. Kancil yang cerdik mencium kebohongan dalam perkataan Buaya. Tetapi Kancil berpura-pura tidak sadar dan malah bertanya apakah Buaya tidak akan memakannya. Buaya menjelaskan bahwa ia sudah makan dan kenyang. Tapi kenyataannya Buaya menganggap Kancil sebagai camilan yang lumayan. 

Kancil yang menyadari siasat Buaya pun menyuruh Buaya untuk tidak memakannya. Ia malah membujuk Buaya untuk memanggil teman-temannya dan berjejer agar Kancil bisa menyeberang. Setelah makan dan kenyang, tentunya Kancil akan lebih gemuk dan enak dimakan. Kawanan Buaya mempercayai perkataan Kancil dan segera membiarkannya menyebrang. Kancil akhirnya dapat pergi ke lahan timun dan menyantap makanannya.

Sekembalinya ia dari lahan timun, ia lagi-lagi membual dan menyuruh kawanan buaya untuk membiarkannya lewat lagi. Ia berjanji akan makan dengan lahap dalam waktu yang lama agar kawanan buaya mendapat porsi Kancil yang lebih besar. Buaya yang mempercayai Kancil pun membiarkannya pulang dan semenjak saat itu, Kancil tidak muncul lagi di hadapan Buaya.

3. Kusir dan Kuda Penarik Delman

Jauh sebelum menjadi seorang kusir, ketika usianya masih sangat muda, seorang laki-laki menemukan seekor kuda tengah kebingungan di dekat jalan setapak menuju desanya. Kuda jantan terlihat gagah dan memiliki rambut lebat, warna bulunya putih bersih, menandakan ia sepertinya bukan kuda biasa.

Kuda putih itu hanya berputar-putar dan sesekali mengangkat kaki depannya ke atas. Pemuda yang melihat itu segera mendekati kuda putih yang gagah itu.

“Kuda gagah… apa kau merasa kehilangan sesuatu?” Tanya sang Pemuda. Kuda tidak bisa menjawab dengan kata-kata. Ia hanya meringkik seraya mengangkat kaki.

Berusaha memberitahu sesuatu, namun orang yang berdiri di hadapannya tidak mengerti sama sekali. Akhirnya ia membawa kuda putih itu pulang, memberinya makan rumput yang segar dan minum, lalu memandikannya. Ia menunggu pemilik kuda itu mencarinya. Namun, setelah berbulan-bulan, tetap tidak ada satu orang pun yang mencari kuda putih yang gagah itu.

Sang Pemuda pun membesarkan kuda itu dengan sepenuh hati. Kuda putih itu juga merasa sangat dekat dengan pemiliknya yang baru.

Hingga suatu hari sang Pemuda kebingungan karena semua ternaknya mati terserang penyakit. Hanya kuda putih yang tersisa. Ia pun kebingungan bagaimana cara mencari uang karena yang ia miliki kini hanya seekor kuda. Setelah berpikir cukup lama, dengan berat hati sang pemuda meminta temannya itu untuk membantunya menarik delman.

Setelah bersusah payah membuat kereta dari kayu, ia pun memasangkan kereta tersebut pada kuda putih. Kuda putih tampak bahagia bisa membantu pemuda yang kini menjadi kusirnya.

Dengan delman yang ia miliki, ia bisa mengangkut anak-anak yang hendak menuntut ilmu, ibu-ibu yang hendak ke pasar, dan para pria yang hendak pergi bekerja. Karena tidak ada delman di desa itu, kusir dan delmannya sangat laris dan sibuk. Dalam waktu singkat, ia pun dapat menghidupi dirinya yang tengah kesusahan.

Beberapa tahun berlalu, sang kusir menjadi tua, sama halnya dengan kuda putih penarik delman. Ia sudah tidak sekuat dulu lagi. Larinya sudah sangat pelan. Bahkan anak-anak yang hendak belajar tidak sabar dengan larinya yang sangat lambat. Ibu-ibu yang hendak ke pasar sudah tidak mau menggunakan jasanya lagi karena delman milik sang kusir sudah tidak dapat berlari cepat lagi.

Kini, tak ada satu orang pun yang mau menaiki delman milik sang kusir. Ia hanya menunggu di sisi jalan dan orang-orang lebih memilih menaiki transportasi lain yang lebih cepat. Saat itulah tiba-tiba kuda putih itu berkata pada sang kusir.

“Teman, sepertinya perjalananku hanya sampai di sini. Maaf telah membuatmu kecewa karena aku sudah tua dan tidak bisa berlari kencang lagi.” ujar Kuda.

“Aku tidak akan memaksamu berlari, teman. Maafkan aku telah membuatmu letih setiap hari.”

“Tidak… tidak… kau tidak memaksaku. Aku melakukan semua itu dengan sukarela. Ingat… kau telah menyelamatkanku waktu itu, hingga aku bisa hidup sampai saat ini. Belilah kuda yang baru, pemilik yang sebelumnya membuatkanku sepatu dari emas dan kau bisa membeli beberapa ekor kuda dari situ.“

“Aku tidak menginginkan kuda yang banyak, aku hanya berharap kau baik-baik saja.” Namun, kuda putih itu terdiam dan tidak bergerak lagi untuk selamanya.

Sang kusir tersentak. Ia menyangka yang menjadi sepatu kuda putih miliknya itu adalah kuningan. Ternyata itu adalah sepatu emas. Mungkin pemilik kuda putih ini sebelumnya adalah seorang bangsawan kaya. Kusir pun menjual sepatu emas itu dan membeli beberapa ekor kuda yang muda dan kuat. Ia pun kembali menarik delman dan bisa mencukupi kebutuhan hidupnya.

4. Kakek yang Selalu Bingung

Di sebuah desa, ada seorang kakek yang hidup sebatang kara. Ia baru saja memutuskan untuk pensiun setelah sekian lama bekerja keras. Ia memiliki sebuah celengan berisi uang hasil jerih payahnya sejak usia muda.Ia ingin di hari tuanya, dapat menikmati uang itu dengan menggunakannya secara bijak. Setelah celengan dibuka, ia menghitung semua uang dan mulai berpikir, kira-kira apa yang dapat ia beli dengan uang yang dimilikinya.

Ia pun berjalan-jalan ke pasar sambil membawa uang miliknya. Ia melihat beberapa ekor kambing muda dan bagus. Ia pun berpikir, jika uang itu digunakan untuk membeli beberapa ekor kambing maka ia dapat memeliharanya. Lama-kelamaan kambing itu beranak sehingga kambing miliknya akan menjadi banyak.

Namun, seketika itu juga tiba-tiba terbesit di dalam pikirannya, jika ia membeli kambing maka ia harus membuat kandang dan mencari rumput untuk makanan semua kambingnya. Ia pun berlalu meninggalkan penjual kambing dan justru memilih beberapa pakaian baru.

“Beberapa pakaian baru tidak akan menghabiskan uangku. Pakaianku kan sudah usang, tidak ada salahnya aku membeli beberapa helai, ucapnya pada diri sendiri.”

Beberapa hari kemudian, kakek tua itu kembali berpikir kira-kira apa yang akan ia beli dengan uang miliknya, yang sudah ia kumpulkan dengan susah payah itu. Tak lama kemudian ia melihat penjual timun. Penjual timun itu menjajakan timun yang sangat bagus, buahnya besar dan ranum.

Terbesit di dalam pikirannya, jika ia membeli beberapa timun dan bijinya ditanam maka ia dapat memanen timun yang bagus-bagus seperti itu. Selain dijual, timun hasil panennya dapat dijadikan makanannya sehari-hari. 

Namun, tiba-tiba ia menjadi kebingungan, karena jika ia menanam timun, ia harus selalu menyiram tanamannya agar subur, memupuknya, dan bahkan menjaganya dari hewan-hewan yang bisa saja mencuri timun miliknya. Ia pun berlalu meninggalkan pedagang timun dan memilih pulang. Namun, saat pulang, ia melihat beberapa pedagang makanan enak. Rasanya sudah lama ia tidak makan enak. Ia pun pulang dengan membeli begitu banyak makanan enak. 

Keesokan harinya, kakek tua itu kembali berpikir apa yang akan ia beli dengan uang hasil bekerja saat usia muda. Tak jauh dari tempatnya berdiri, ada seorang penjual ikan nila. Kakek tua itu melihat ikan-ikan nila itu mengibaskan sirip dan berenang di kolam kecil.

Terlintas di dalam pikirannya untuk memelihara ikan nila. Ikan nila akan cepat tumbuh besar dan beranak, lama kelamaan saat sudah besar, ikan tersebut dapat dijual dan menghasilkan uang.

Tiba-tiba Kakek tua kembali bingung, jika ia memelihara ikan, ia harus menyediakan makanan ikan setiap hari. Jika kemarau dan kolam ikan menjadi kering, ikan-ikan akan mati. Ia pun pergi meninggalkan ikan nila dan bergegas pulang. 

Saat hendak pulang, tiba-tiba sandal yang ia kenakan putus. Sandalnya harus segera diperbaiki. Namun, butuh waktu lama untuk memperbaikinya. Ia pun mendekati penjual sandal dan membeli beberapa pasang sandal. 

Hingga suatu hari, ia masih saja bingung apa yang akan ia beli. Pak tua terkejut karena uang di saku celananya telah habis. Pak tua sangat menyesal mengapa ia selalu bingung dengan apa yang ada di hadapannya. Pak tua sangat menyesal karena ia telah bekerja keras mengumpulkan uang di waktu muda, kini dengan mudah ia menghabiskan uang itu di waktu tua untuk sesuatu yang tidak begitu penting. Kini ia menikmati masa tua dengan tidak memiliki apa-apa.

5. Pohon Kehidupan

Hiduplah seorang pria tua yang memiliki empat orang anak. Ia ingin anak-anaknya tidak menjadi manusia yang terlalu cepat menghakimi sesuatu. Untuk itu, ia mengirimkan mereka untuk melihat pohon pir yang berada jauh dari rumah mereka.

Masing-masing anak diminta pergi di musim berbeda, yakni musim dingin, semi, panas, dan gugur. Saat keempatnya kembali, sang ayah bertanya tentang apa yang mereka lihat. 

Anak pertama mengatakan pohon itu terlihat jelek, gundul, dan bengkok terkena angin. Sebaliknya, anak kedua mengatakan pohon itu dipenuhi tunas dan terlihat menjanjikan. Lalu, anak ketiga mengatakan kalau pohon tersebut dipenuhi bunga-bunga yang wangi. Terakhir, anak keempat mengatakan kalau si pohon memiliki banyak buah yang terlihat nikmat.

Sang ayah menjelaskan kalau semua yang mereka lihat itu benar. Masing-masing dari mereka hanya melihat pohon itu dalam satu musim saja. Ia lalu berujar, kalau mereka tidak boleh menilai pohon, apalagi manusia, hanya dari satu sisi saja.

6. Burung Bangau yang Pandai Menari

Pada sebuah tepian sungai yang ditumbuhi banyak rerumputan, ada seekor bangau yang suka sekali menari. Sehari-hari, yang ia lakukan hanyalah menghentakkan kaki-kakinya yang jenjang ke rerumputan basah dan menggoyang-goyangkan lehernya.

Suatu hari saat tengah asyik menikmati tariannya, ia mendengar beberapa suara kecil seolah sedang marah pada dirinya. Bangau pun menghentikan tariannya seketika dan mencari asal suara. Bangau menemukan koloni semut yang menempel pada kakinya, ternyata ia tidak sengaja menginjak rumah semut. Rumah semut hancur, semua semut dan makanannya ikut terinjak.

“Uups… maafkan aku sahabat-sahabatku, aku tidak sengaja menginjak rumah kalian.”

“Apa kau tidak bisa menari di tempat lain? Kami sudah bekerja keras mengumpulkan makanan sebelum musim hujan tiba. Kami juga berusaha memperbaiki rumah kami agar tidak terseret air hujan. Namun, dengan sekali hentakkan kakimu saja, rumah kami beserta isinya hancur.”

Bangau merasa sangat bersalah. Dilihatnya semut-semut kecil di bawah kakinya. Mereka bekerja dengan sangat keras mencari makanan dan menggotong makanan tersebut bersama-sama. Mereka juga memperbaiki sarang agar bisa menjadi tempat tinggal yang baik sebelum musim kemarau berakhir.

Bangau pun mencari cara agar dapat memperbaiki kesalahan. Jika ia tidak membantunya, semut tidak akan punya cukup waktu untuk memperbaiki sarang dan mencari makanan untuk persediaan musim hujan. 

“Tunggu sebentar, aku akan mengganti semua sarang dan makananmu.” Bangau melesat cepat dengan kaki jenjangnya, ia mencari apa pun yang dapat dijadikan sarang semut. Namun, ia tidak menemukan benda apa pun yang bisa menjadi sarang untuk para semut.

Bangau kehabisan akal, ia hanya berputar-putar di sekitar sungai dan tidak menemukan apa pun. Begitu pula dengan makanan semut, ia bingung harus dengan apa mengganti makanan mereka yang telah hancur terinjak itu. Ia pun kembali pada semut yang menunggu bangau dan keheranan dengan sikap bangau yang hanya berputar-putar.

“Maafkan aku semut, aku tidak bisa menemukan apapun untuk membuat sarangmu. Namun, karena aku sudah berbuat salah, kau dapat tinggal di rumahku dan aku akan bekerja keras mencarikan makanan untukmu selama musim hujan.”

Sejak saat itu bangau belajar dari semut untuk selalu bekerja keras dan membagi waktu antara menari dan bekerja.

7. Kisah Burung Bangau yang Pandai Menari

Di sebuah tepian sungai yang ditumbuhi banyak rerumputan, ada seekor bangau yang suka sekali menari. Sehari-hari, yang ia lakukan hanyalah menghentakkan kaki-kakinya yang jenjang ke rerumputan basah dan menggoyang-goyangkan lehernya.

Suatu hari saat tengah asyik menikmati tariannya, ia mendengar beberapa suara kecil seolah sedang marah pada dirinya. Bangau pun menghentikan tariannya seketika dan mencari asal suara. Bangau menemukan koloni semut yang menempel pada kakinya, ternyata ia tidak sengaja menginjak rumah semut. Rumah semut hancur, semua semut dan makanannya ikut terinjak.

“Uups… maafkan aku sahabat-sahabatku, aku tidak sengaja menginjak rumah kalian.”

“Apa kau tidak bisa menari di tempat lain? Kami sudah bekerja keras mengumpulkan makanan sebelum musim hujan tiba. Kami juga berusaha memperbaiki rumah kami agar tidak terseret air hujan. Namun, dengan sekali hentakkan kakimu saja, rumah kami beserta isinya hancur.”

Bangau merasa sangat bersalah. Dilihatnya semut-semut kecil di bawah kakinya. Mereka bekerja dengan sangat keras mencari makanan dan menggotong makanan tersebut bersama-sama. Mereka juga memperbaiki sarang agar bisa menjadi tempat tinggal yang baik sebelum musim kemarau berakhir.

Bangau pun mencari cara agar dapat memperbaiki kesalahan. Jika ia tidak membantunya, semut tidak akan punya cukup waktu untuk memperbaiki sarang dan mencari makanan untuk persediaan musim hujan.

“Tunggu sebentar, aku akan mengganti semua sarang dan makananmu.” Bangau melesat cepat dengan kaki jenjangnya, ia mencari apa pun yang dapat dijadikan sarang semut. Namun, ia tidak menemukan benda apa pun yang bisa menjadi sarang untuk para semut.

Bangau pun kehabisan akal, ia hanya berputar-putar di sekitar sungai dan tidak menemukan apa pun. Begitu pula dengan makanan semut, ia bingung harus dengan apa mengganti makanan mereka yang telah hancur terinjak itu. Ia pun kembali pada semut yang menunggu bangau dan keheranan dengan sikap bangau yang hanya berputar-putar.

“Maafkan aku semut, aku tidak bisa menemukan apapun untuk membuat sarangmu. Namun, karena aku sudah berbuat salah, kau dapat tinggal di rumahku dan aku akan bekerja keras mencarikan makanan untukmu selama musim hujan.”

Sejak saat itu bangau belajar dari semut untuk selalu bekerja keras dan membagi waktu antara menari dan bekerja.

8. Angsa dan Telur Emas

Pada zaman dahulu kala, ada seorang petani yang memiliki seekor angsa yang sangatlah cantik, dimana setiap hari ketika petani tersebut mendatangi kandang angsa, sang Angsa telah menelurkan sebuah telur emas yang berkilauan.

Petani tersebut mengambil dan membawa telur-telur emas tersebut ke pasar dan menjualnya sehingga dalam waktu yang singkat petani tersebut mulai menjadi kaya. Tetapi tidak lama kemudian keserakahan dan ketidak-sabaran petani itu terhadap sang Angsa muncul karena sang Angsa hanya memberikan sebuah telur setiap hari. Sang Petani merasa dia tidak akan cepat menjadi kaya dengan cara begitu.

Suatu hari, setelah menghitung uangnya, sebuah gagasan muncul di kepala petani, gagasan bahwa dia akan mendapatkan semua telur emas sang Angsa sekaligus dengan cara memotong sang Angsa. Tetapi ketika gagasan tersebut dilaksanakan, tidak ada sebuah telur yang dapat ditemukan, dan angsanya yang sangat berharga terlanjur mati dipotong.

Jadi pembelajaran yang dapat kita teladani dari dongeng angsa dan telur emas ini adalah barang siapa yang telah memiliki sesuatu dengan berlimpah, tetapi serakah dan menginginkan yang lebih lagi, akan kehilangan semua yang dimilikinya.

Maka bersyukurlah dengan segala sesuatu yang kita miliki.

9. Si Kura-Kura yang Sombong

Ada seekor kura-kura yang sombong dan merasa dirinya lebih pantas terbang dibandingkan berenang di perairan. Ia jengkel karena memiliki tempurung keras yang membuat tubuhnya terasa berat.

Ia pun kesal melihat kawan-kawannya sudah berpuas diri dengan berenang. Saat melihat burung yang bebas terbang di langit, kejengkelannya kian bertambah.

Suatu hari, kura-kura ini memaksa seekor angsa untuk membantunya terbang. Si angsa setuju. Ia mengusulkan agar si kura-kura berpegangan pada sebatang kayu yang akan diangkatnya.

Karena tangan kura-kura agak lemah, ia menggunakan mulutnya yang lebih kuat. Ia pun akhirnya bisa terbang dan merasa bangga.

Melihat teman-temannya yang tengah berenang, ia ingin menyombongkan diri. Ia lupa bahwa mulutnya harus terus dipakai untuk menggigit kayu. Ia pun terjatuh dengan keras. Beruntung, ia selamat berkat tempurung yang pernah dibencinya.

10. Kisah Beruang dan Ibunya

Seekor beruang kecil hidup di hutan dalam kondisi berbeda dengan beruang kebanyakan, ia terlahir dengan tubuh yang tidak sempurna.

Beruang kebanyakan memiliki dua tangan untuk mencakar dan dua kaki. Sementara anak beruang yang satu ini tidak memiliki telapak tangan, sehingga ia tidak bisa mencakar apa pun.

Sejak lahir hingga usianya menginjak remaja, beruang kecil selalu bersama ibunya. Ia selalu menerima ejekan dari beruang lain ataupun hewan hutan yang lain.

“Hai beruang tanpa tangan, bisakah sekali saja kulihat kau berjalan tanpa ibumu?” tanya anak harimau, ibu beruang memperingatkan anaknya untuk tidak menggubris ejekan hewan lain.

Ibu beruang khawatir jika anaknya sendiri, ia tidak akan bisa melindungi dirinya jika ada hewan yang ingin memangsa. Namun, beruang yang dikucilkan merasa sedih karena setiap hari ia harus mendengar ejekan teman-temannya.

Saat asik berjalan-jalan di hutan, beruang kecil menemukan sebilah pisau yang ditinggalkan seorang pemburu. Ia pun mengambil pisau itu dan meminta ibunya mengikatkan pisau itu pada tangannya. Dengan menggunakan akar pohon, pisau itu melekat kuat di tangan beruang.

Saat teman-temannya mengejek beruang, ia lalu menunjukkan pisau tajam yang berada di tangannya.

Beruang juga menunjukkan dengan pisau itu ia dapat mencakar pohon di hadapannya, kulit pohon yang ia cakar tercabik-cabik. Hewan-hewan yang semula mengejeknya kini membisu, walaupun beruang tidak memiliki telapak tangan, ia merupakan beruang yang hebat.

“Maafkan kami, Beruang, tak seharusnya kami berlaku buruk padamu“ ujar anak harimau.

“Kau beruang yang hebat, maukah kau menjadi teman kami?” tanya anak singa.

“Kami semua memiliki kekurangan,” ujar anak serigala.

“Aku tidak membenci kalian semua, aku juga sudah menganggap kalian adalah teman-temanku.

Namun. aku ingin selalu bersama Ibu agar kami dapat saling menjaga. Kita semua sama, memiliki kelebihan dan kekurangan. Aku mohon pada kalian, teman-temanku. Berhentilah menghina hewan lain.” Semua terdiam mendengar perkataan beruang, ia pun berlalu bersama ibunya.

(Hafid Fuad)

Edukasi Okezone hadir dengan Informasi terpercaya tentang pendidikan, tryout ujian, dan pengembangan karier untuk masa depan yang lebih baik

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita edukasi lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement