JAKARTA - Mantan Perdana Menteri Inggris, Tony Blair menjadi perbincangan karena pertemuannya dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi).
Mereka bertemu di Istana Merdeka, Jakarta pada Rabu (19/10/2022).
Pada pertemuannya, Jokowi meminta Blair turut serta dalam agenda membantu mempromosikan Ibu Kota Nusantara (IKN) ke dunia internasional.
"Presiden minta Tony Blair dan Tony Blair kebetulan menawarkan diri juga untuk membantu promosikan ibu kota baru ini ke internasional," ujar Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves), Luhut Binsar Pandjaitan yang mendampingi Jokowi saat itu.
Profil Tony Blair
Nama lengkapnya adalah Athony Charles Lynton Blair. Dia lahir di Edinburgh, Skotlandia pada 6 Mei 1953.
Blair merupakan lulusan hukum dari St John's College, Universitas Oxford.
Dia merupakan putra kedua dari pasangan Leo Blair, seorang inspektur pajak yang menjadi dosen dan Hazel, ibu rumah tangga.
Blair menikah dengan Cherie Booth, seorang pengacara di tahun 1980.
Mereka mempunyai empat anak, Euan, Nicky, Kathryn, dan Leo.
Awalnya, Blair melalui perjalanan karirnya sebagai seorang pengacara. Kemudian di tahun 1983, dia terpilih menjadi anggota parlemen Partai Buruh untuk Sedgefield.
Di tahun 1992, John Smith, seorang pemimpin Partai Buruh saat itu menunjuk Blair menjadi sekretaris rumah bayangan.
Kemudian pada 1994, Blair pun diangkat menjadi pemimpin partai setelah kematian John Smith yang terjadi secara tiba-tiba.
Di bawah kepemimpinannya, Partai Buruh berhasil memenangkan pemilu dari perolehan suara di parlemen Inggris.
Hal ini membuat Blair menjabat sebagai Perdana Menteri Inggris sejak 2 Mei 1997. Dia menjadi perdana Menteri Inggris termuda sejak Lord Liverpool di tahun 1812.
Blair juga dijuluki sebagai politisi karismatik.
Sebagai Perdana Menteri, Blair memperkenalkan banyak reformasi sosial dan masalah pemanasan global.
Di tahun pertama dia menjabat sebagai Perdana Menteri, Blair mengakhiri 18 tahun pemerintahan konservatif.
Di akhir tahun 1990-an, ekonomi Inggris berjalan lancar sehingga Partai Buruh dengan mudah mendapatkan kekuasaannya dan Blair kembali memenangkan pemilu di tahun 2001.
Masalah datang ketika terjadi invasi ke Irak setelah peristiwa serangan 9/11 di Amerika Serikat. Invasi ini memecah belah Inggris sehingga terjadi demonstrasi besar.
Selain itu, banyak anggota Partai Buruh yang memberontak karena Blair menggiring mereka ke dalam perang.
Walaupun banyak yang kecewa dengan kebijakan Blair terhadap Irak, dia kembali memenangkan suara pemilu di tahun 2005.
Hal ini menjadikan Blair menjabat sebagai Perdana Menteri selama tiga kali berturut-turut.
Pemberontakan yang terjadi di dalam Partai Buruh dan penolakan kebijakannya semakin memburuk. Akibatnya, Blair tidak lagi mendapatkan dukungan dari orang lain dan berjanji akan mengundurkan diri.
Akhirnya, setelah menjabat selama 10 tahun dengan masa tiga periodenya, Blair pun mengundurkan diri.
Dia menyerahkan posisinya sebagai Perdana Menteri kepada Gordon Brown pada 27 Juni 2007.
Sejak pensiun dari politiknya, Blair menjabat sebagai utusan khusus untuk Timur Tengah atas nama Uni Eropa, Amerika Serikat, dan Rusia.
(Natalia Bulan)
Edukasi Okezone hadir dengan Informasi terpercaya tentang pendidikan, tryout ujian, dan pengembangan karier untuk masa depan yang lebih baik