Share

Mengenal Sosok Pierre Tendean, Pahlawan Revolusi dengan Segudang Prestasi yang Jadi Korban G30SPKI

Cita Zenitha, MNC Portal · Rabu 28 September 2022 09:15 WIB
https: img.okezone.com content 2022 09 28 624 2676395 mengenal-sosok-pierre-tendean-pahlawan-revolusi-dengan-segudang-prestasi-yang-jadi-korban-g30spki-zGrBjZLaIR.jpg Ilustrasi (Foto: Istimewa)

JAKARTA- Mari mengenal sosok Piere Tendean yang tak lepas dari kasus G30S/PKI. Pierre Tendean, satu diantara pahlawan revolusi menghabiskan masa remaja di kota Semarang. Selepas lulus sekolah dasar, Pierre Tendean melanjutkan pendidikan menengah di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Semarang, tepatnya pada tahun 1952.

Piere Tendean

SMP Negeri 1 Semarang Nomor 134. Bangunan sekolah ini sekarang sudah tidak ada lagi dan beralih fungsi menjadi gedung Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah.

Jika mendaki ke belakang, peristiwa G30S/PKI meninggalkan bekas luka yang dalam di Indonesia. Saat itu, sekitar enam jenderal dan satu perwira menjadi korban kejahatan PKI. Dari kejadian tersebut, pemerintah Sukarno digulingkan dan Indonesia berubah menjadi negara komunis.

Salah satu perwira yang kisahnya hingga kini masih terkenal adalah terbunuhnya Lettu Pierre Andreas Tendean. Ia adalah perwira muda yang menggantikan Jenderal Nasution di rumahnya ketika pasukan PKI menggerebek masuk. Piere Tendean menyerahkan nyawanya sendiri supaya bisa menyelamatkan Jenderal Nasution.

Perwira yang kala itu berusia 26 tahun ditangkap, diikat dan dibawa ke Lubang Buaya di Jakarta Timur. Dia kemudian ditembak sebanyak empat kali sebelum dibuang ke sebuah sumur berdiameter 75 cm bersama mayat perwira lainnya.

Cerita tentang kesetiaan perwira muda dan tampan Pierre Tendean masih membekas hingga kini. Apa lagi diketahui sebelum kasus tersebut, Pierre tendean baru saja menikah dengan seorang wanita bernama Rukmini.

Mengenal sosok Pierre Tendean termasuk siswa yang cakap dalam olahraga, di antaranya atletik. Ia selalu diperhitungkan sebagai pelari andalan dalam tim lari estafet yang mewakili SMP Negeri 1 Semarang dalam setiap lomba olahraga.

Dia merupakan keturunan Belanda dan Prancis dan sosok tampan merupakan anak kedua dari tiga bersaudara dari pasangan Aurelius Lammert Tendean dan Maria Elizabeth.

Karena ayahnya bekerja sebagai dokter, Pierre Tendean menghabiskan masa kecilnya dengan berpindah-pindah kota. Ia mengenyam bangku sekolah dasar di Magelang kemudian masa SMP dan SMA ia habiskan di Semarang.

Setelah lulus dari ATEKAD pada tahun 1962, ia dipromosikan menjadi letnan dua dan diangkat menjadi komandan peleton Batalyon Insinyur Tempur 2, Kodam II/Bukit Balisan, Medan. Ia kemudian melanjutkan pendidikannya di Sekolah Intelijen Bogor.

Tak berselang lama ketika sedang dinas di Dinas Pusat Intelijen Angkatan Darat, Pierre mendapat tugas untuk memata-matai Malaysia pada insiden dwikora. Dalam misi ini, dia dan beberapa relawan menyusup ke Malaysia.

Melihat kegigihannya, Pierre Tendean akhirnya dipromosikan menjadi  letnan pada 15 April  1965. Ia juga ditugaskan sebagai  Ajudan Jenderal Nasution. Sayangnya ditahun yang sama tepatnya 1 Oktober 1965 terjadi penggerebekan di rumah Jenderal Nasution.

Melihat rumah yang sudah dikepung serta suara tembakan, Pierre Tendean mengaku bahwa dirinya adalah Jenderal Nasution untuk melindungi batasannya tersebut. Naas peristiwa itu merenggut nyawanya.

Demikian informasi mengenai sosok Pierre Tendean yang belum banyak diketahui. Semoga bermanfaat.

(RIN)

1
3

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini