Share

BRIN Akan Kukuhkan 4 Penelitinya sebagai Profesor Riset

Natalia Bulan, Okezone · Selasa 27 September 2022 10:45 WIB
https: img.okezone.com content 2022 09 27 65 2675683 brin-akan-kukuhkan-4-penelitinya-sebagai-profesor-riset-ikYcs0VW4f.jpeg Gedung BRIN/Dok. BRIN

CIBINONG - Majelis Profesor Riset akan mengukuhkan 4 orang peneliti di lingkungan BRIN di Jakarta, Rabu (28/9/2022).

Keempat peneliti tersebut adalah Anang Hari Kristanto dari Organisasi Riset (OR) Hayati dan Lingkungan, Angela Mariana Lusiastuti dari OR Kesehatan, dan Dina Bisara dari OR Kesehatan, serta Erni Budiwanti dari OR Ilmu Pengetahuan Sosial Humaniora.

Kepala BRIN, Laksana Tri Handoko mengatakan bahwa gelar Profesor Riset adalah gelar tertinggi yang dicapai oleh seseorang dalam kariernya sebagai periset.

“Meskipun gelar Profesor Riset bukan gelar secara kepegawaian kita sebagai ASN, namun yang lebih daripada itu, gelar ini memberikan beban tambahan yang tidak ringan kepada yang telah dikukuhkan,” ungkapnya.

“Profesor Riset juga memiliki tanggung jawab yang sangat besar, tidak hanya untuk dirinya sendiri Namun kita harapkan, Profesor Riset menjadi penghela terdepan untuk kelompok-kelompok risetnya, karena itulah tanggung ,jawab menjadi Profesor Riset,” sambung Handoko.

Handoko mengatakan bahwa proses transformasi BRIN masih terus berjalan sampai sekarang dan merupakan milestone perubahan besar dalam kelembagaan riset di Indonesia.

“Demi mewujudkan milestone ini sungguh tidak mudah, mengingat SDM BRIN berasal dari berbagai macam entitas dengan latar belakang berbeda yang bergabung menjadi satu,” tegasnya.

Handoko mengingatkan kembali, satu tahun perjalanan BRIN menjadi lembaga riset dan inovasi di Indonesia akan terus memiliki tantangan.

Namun yang harus diingat adalah amanah dari Negara kepada tujuan dibentuknya BRIN, yaitu untuk memperbaiki ekosistem riset dan inovasi di Indonesia secara fundamental.

Menurut Handoko, yang terpenting kita harus tetap fokus dalam mengupayakan dan memberdayakan yang ada pada diri kita, baik itu bagi para pelaku litbangjirap: peneliti, perekayasa, pengembangan teknologi nuklir, maupun kelompok-kelompok pendukung aktivitas riset, untuk memberikan yang terbaik memajukan riset dan inovasi di Indonesia.

“Pengalihan SDM Periset ke BRIN diharapkan dapat menjadikan kita lebih bersemangat dan berharap kepada semua SDM mampu membawa BRIN menjadi Lembaga riset yang lebih kuat,” tutur Handoko.

Dikatakan Handoko, dengan dikukuhkannya empat Profesor Riset yang baru merupakan kebanggaan bagi kita semua, sebagai bukti bahwa BRIN pada khususnya memiliki kesinambungan kaderisasi peneliti untuk menghasilkan karya-karya penelitian berkualitas internasional.

“Semoga hal ini bisa menjadikan semangat bagi para periset lainnya, agar kaderisasi serta kompetensi pada kepakaran tertentu tetap terjaga dan berkesinambungan. Kaderisasi ini penting untuk terus menghasilkan hasil penelitian yang berkualitas untuk terus dikembangkan guna mendukung sustainability pembangunan. Seperti harapan Indonesia, harapannya BRIN selalu memiliki terobosan atau inovasi baru untuk mewujudkan Indonesia yang lebih baik,” pungkas Handoko.

Sebagai informasi, keempat profesor riset yang dikukuhkan akan memaparkan orasi dibidangnya masing-masing, yakni Anang Hari Kristanto, pakar Bidang Pemuliaan Genetika menyampaikan tentang domestikasi ikan air tawar asli Indonesia ketika beberapa proses domestikasi yang dilakukan dalam upaya menghasilkan jenis ikan budidaya yang baik.

Tantangan dalam domestikasi ikan yang dihadapi yakni menciptakan kit yang dapat mendeteksi secara cepat induk ikan yang siap dipijahkan sehingga dapat lebih efisien dalam pemilihan induk matang gonad dan penggunaan hormon pemijahan.

Angela Mariana Lusiastuti, M.Si. pakar Bidang Kesehatan Ikan dan Lingkungan, dalam orasinya tentang inovasi berupa vaksin yang dikembangkan guna untuk budidaya ikan air tawar berkelanjutan, menyampaikan aplikasi vaksinasi pada budidaya ikan air tawar dapat meningkatkan sintasan ikan lebih dari 10%.

Tentu saja dalam hal ini tantangan yang masih harus dilalui kedepannya adalah meminimalkan berkembangnya penyakit dan mengurangi penggunaan antibiotika yang membahayakan kesehatan manusia, hewan dan lingkungan.

Dina Bisara, M.A. pakar Bidang Kesehatan Masyarakat, menyampaikan hasil orasi berupa foto toraks dan tes cepat molekuler (TCM) yang merupakan teknologi yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan penemuan kasus TBC.

Kombinasi skrining gejala dan foto toraks dapat menambah penemuan kasus TBC dan penggunaan TCM untuk diagnosis TBC akan berdampak pada peningkatan cakupan kasus yang ditemukan dan diobati sehingga mengurangi penularan yang akhirnya kasus TBC dapat ditekan.

Erni Budiwanti, M.A. pakar Bidang Antropologi Agama. Menyampaikan orasi bagaimana mengelola keberagaman agama dalam ruang publik.

Isu utama dalam negara yang pluralistik, seperti Indonesia, adalah keragaman (diversity) dan kesatuan (unity).

Konflik yang mengatasnamakan agama sebagai bagian dinamika keberagaman.

Oleh karena itu ruang publik dalam masyarakat idealnya merepresentasikan koeksistensi damai, di samping itu pemerintah dalam peran kebijakan pada Negara juga diharapkan tidak mengabaikan aspirasi dan kepentingan minoritas agama.

1
3

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini