Share

ORI Sebut Masih Ada Praktik Jual Beli Seragam di PPDB, Sekolah-Sekolah Raup Untung hingga Miliaran

Erfan Erlin, iNews · Senin 26 September 2022 18:40 WIB
https: img.okezone.com content 2022 09 26 624 2675383 ori-sebut-masih-ada-praktik-jual-beli-seragam-di-ppdb-sekolah-sekolah-raup-untung-hingga-miliaran-o1YMv1iztD.jpg Ilustrasi/Antara

YOGYAKARTA - Ombudsman republik Indonesia (ORI) DIY masih menemukan praktek jual beli seragam yang dilakukan oleh sekolah dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun 2022 kemarin. Dari praktik tersebut, potensi keuntungan yang diambil sekolah-sekolah di DIY mencapai Rp 10 miliar lebih.

Ketua ORI DIY, Budi Masturi menuturkan untuk PPDB kemarin pihak memang melakukan pemantauan secara khusus baik pra PPDB ataupun paska PPDB. Beberapa hal yang menonjol mereka temukan selama proses PPDB tersebut. Dan temuan ini sebenarnya sudah mereka sampaikan ke Pemerintah.

 BACA JUGA:Diduga Marak Pungli di Sekolah, FAGI Minta Gubernur Bentuk Tim Investigasi

Salah satu yang menonjol adalah praktek jual beli seragam oleh sekolah. Di mana mereka menemukan beberapa modus dilakukan oleh pihak sekolah untuk 'melakukan' praktek jual beli seragam sekolah tersebut. Modus tersebut tentu untuk menyiasati adanya peraturan larangan jual beli seragam oleh sekolah.

"Aturan jual beli seragam oleh sekolah tersebut sebenarnya cukup banyak,"kata dia, Senin (26/9/2022).

Praktek jual beli seragam sekolah ini hampir terjadi di semua kabupaten/Kota di DIY. Pihak sekolah melakukan markup harga jual seragam dengan beberapa cara. Di antaranya adalah bekerjasama dengan pihak toko ataupun koperasi.

Pihak toko sendiri sengaja diundang untuk ke sekolah guna menjelaskan jenis seragam dan juga harganya kepada walimurid atau orangtua siswa. Tentu saja sebelumnya sudah ada kesepakatan Mark up harga jual seragam sekolah tersebut

"Jadi Mark upnya perpaket seragam nilainya Rp 300 sampai Rp 500 ribu. Jadi sekolah bisa untuk puluhan juta dari pengadaan seragam ini,"terang dia.

Modus yang digunakan adalah pengadaan seragam tersebut dilakukan oleh Paguyuban Orang Tua (POT). Namun setelah diselidiki ternyata ada sekolah di belakang POT tersebut. Di mana pihaklah yang menentukan harga seragam.

"Hal yang paling terlihat adalah pembayaran tersebut melalui Bendahara sekolah,"ujarnya.

Selain itu juga ada toko yang mereka tunjuk untuk bekerjasama dalam pengadaan seragam siswa tersebut.

Fakta tersebut mereka temukan setelah melakukan investigasi ke toko dengan berpura-pura menjadi pembeli. Di toko tersebut mereka menemukan sudah menyediakan seragam bersekolah.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini