Sementara, disertasi doktornya di Columbia University yang berjudul “The Transmission of Islamic Reformism to Indonesia: Network of Middle Eastern and Malay-Indonesian Ulama in the Seventeenth and Eighteenth Centuries” telah diterbitkan di Canberra, Honolulu, hingga Belanda.
Pada 2004-2009, Profesor Azyumardi menjadi orang Asia Tenggara pertama yang diangkat sebagai Professor Fellow di Universitas Melbourne, Australia.
Bahkan ia menjadi orang Indonesia pertama yang pernah menerima gelar kehormatan dari Kerajaan Inggris, Commander of The Order of British Empire pada 2010.
2. BJ Habibie
BJ Habibie merupakan Presiden Indonesia ke-3. Sebelum masuk ke dunia politik, ia dikenal sebagai ilmuwan teknologi penerbangan serta profesor.
Habibie juga dikenal sebagai tokoh lahirnya Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI). ICMI dibentuk pada 7 Desember 1990, dengan Habibie menjadi ketuanya yang pertama.
Lantaran kepintaran serta kecerdasannya, Habibie menempuh pendidikan di Jerman setelah sempat beberapa bulan kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB).
Di Jerman, pengetahuan Habibie semakin terasah, terutama di bidang penerbangan. Ia pernah bekerja di perusahaan penerbangan Messerschmitt Bolkow Blohm yang berpusat di Hamburg, Jerman.
Selain itu, beberapa penemuan Habibie mendapat pengakuan dunia, salah satunya Crack Progression Theory.
Di Tanah Air, ia menginisiasi pembuatan pesawat N250 Gatot Kaca. BJ Habibie meninggal dunia di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta, pada 11 September 2019
3. Ahmad Syafii Maarif
Ahmad Syafii Maarif atau yang dikenal Buya Syafii Maarif merupakan mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah serta cendekiawan Muslim. Buya Syafii lahir di Sumpur Kudus, Minangkabau, 31 Mei 1935.
Pada 1998-2005, ia menjadi Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Tak hanya itu, Buya Syafii juga pernah menjabat sebagai Presiden World Conference on Religion for Peace (WCRP).
Lalu ia pun aktif dalam Maarif Institute. Ia dikenal sebagai tokoh bangsa yang sering menyampaikan kritik secara objektif serta lugas melalui tulisannya di berbagai media.
Pada 2008, atas karya-karyanya, ia mendapat penghargaan Ramon Magsaysay dari pemerintah Filipina.
Pada 27 Mei 2022, Buya Syafii meninggal dunia di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Gamping, Yogyakarta.