Share

Kisah Pilu Siswi di Tangsel, Tinggal di Rumah Bedeng Tanpa Listrik dan Air Sumur

Hambali, Okezone · Jum'at 23 September 2022 11:48 WIB
https: img.okezone.com content 2022 09 23 624 2673440 kisah-pilu-siswi-di-tangsel-tinggal-di-rumah-bedeng-tanpa-listrik-dan-air-sumur-pvjzELsWYp.jpg Kisah pilu siswi di Tangsel, tinggal di rumah bedeng tanpa listrik dan air sumur/Hambali

"Dulu sebenarnya kita ngontrak petakan, per bulannya 600 ribu. Tapi karena sering menunggak terus sampai beberapa bulan, akhirnya saya usul ke Pak RT untuk bangun bedeng di lahan milik pengembang di sini. Selama belum dibangun sama pengembang ya mudah-mudahan masih bisa saya tempati dulu. Jadi saya nggak ngontrak lagi," tutur Karta Jaya, Kamis (22/9/22).

Usul untuk membangun bedeng sementara itu adalah pilihan terakhir bagi Karta, sebab dia tak sanggup lagi jika harus membayar uang sewa kontrakan tiap bulan.

Apalagi seunit motor yang dimiliki telah digadaikan guna menutupi sisa tunggakan pada waktu lalu.

Kondisi rumah KDL/Hambali

"Waktu itu nunggak sampai berbulan-bulan totalnya sampai 3 jutaan, ditagih terus, jadi mau nggak mau motor digadein buat bayar sisanya. Habis itu, saya bangun bedeng ini, pake puing-puing nyari di bawah. Sekarang udah 2 bulanan tinggal di sini," ucapnya.

Bedeng itu terletak di batas dinding pembatas milik salah satu pengembang, persis di bawah sebuah pohon besar.

Bangunan rumahnya pun dibuat tambal sulam dengan bekas papan, kayu, seng, dan bambu yang tak terpakai. Secara umum bisa dibilang jauh dari kata layak huni.

Hal yang memprihatinkannya lagi, bedeng itu tak memiliki akses jaringan listrik dan air sumur.

KDL kerap mengeluhkan rasa sakit pada bagian mata akibat belajar hanya diterangi lilin atau sinar lampu handphone.

Jika malam tiba, suasana rumah dan sekelilingnya praktis gelap gulita.

"Kalau belajar pakai lilin aja, atau diterangin pakai lampu HP. Kalau lilinnya udah abis, ya numpang belajarnya ke rumah teman," ungkap KDL.

Guna memenuhi kebutuhan air untuk mandi, mencuci, dan memasak, keluarga ini harus turun ke sumber air yang berada di sudut perumahan di balik tembok pembatas.

Jaraknya lumayan jauh sekira 200-300 meter dengan jalan menurun tajam. Air itu ditempatkan dalam ember atau galon, lalu dipanggul ke dalam bedeng.

"Kalau untuk mandi dia (KDL), tiap pagi saya yang manggul dari bawah ke atas (rumah). Agak lumayan berat, karena kan harus turun dulu ke perumahan di bawah. Kalau bapak nya udah nggak kuat manggul, paling sanggup 1 ember aja, jadi sisanya saya yang ngambil," terang sang ibu mendampingi.

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini