“Karena itu, saya meminta Dekan FISIP agar disiapkan kerja sama yang lebih konkret dengan Timor Leste. Mudah-mudahan ini bukan kunjungan pertama dan terakhir. Kita sangat terbuka untuk saling mengunjungi, termasuk untuk melihat perkembangan di Timor Leste sebagai referensi,” tuturnya.
Sementara itu, Presiden Dewan Menteri Timor Leste Fidelis Leite Magalhaes mengatakan Timor Leste sebagai negara yang baru merdeka menghadapi tantangan untuk mengisi kemerdekaan sekaligus mengikuti perkembangan politik global.
Karena itu, ilmu hubungan internasional perlu dipelajari.
“Timor Leste menjadi negara merdeka pada 2002. Banyak harapan dari rakyat Timor Leste untuk mewujudkan demokrasi sebagai bangsa dan negara yang merdeka. Perjuangan untuk meraih kemerdekaan sudah dilakukan. Setelah merdeka, apa yang menjadi prioritas untuk mengisi kemerdekaan,” katanya.
Fidelis mengatakan banyak generasi muda Timor Leste saat ini memiliki pengalaman yang sama dengan generasi Sukarno-Hatta dan para pemuda yang memperjuangkan dan memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.
Kesamaan pengalaman itu adalah merasakan suasana sebelum dan sesudah kemerdekaan.
“Sukarno-Hatta setelah memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, memikirkan apa yang harus dilakukan untuk membangun negara dan bangsa. Kini, generasi kami di Timor Leste juga memikirkan apa yang harus dilakukan untuk membangun negara dan bangsa,” jelasnya.
Fidelis mengatakan salah satu harus dilakukan adalah mengelola kekayaan Timor Leste. Menurut dia, salah satu kekayaan alam Timor Leste adalah minyak bumi dan gas.
Kekayaan minyak bumi dan gas itu harus dikelola tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan generasi saat ini, tetapi juga harus dipikirkan untuk kebutuhan generasi mendatang.