Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Makan Semangka pada 6.000 Tahun Lalu Ternyata Bisa Mematikan, Bagaimana Penjelasannya?

Agregasi BBC Indonesia , Jurnalis-Selasa, 23 Agustus 2022 |15:49 WIB
Makan Semangka pada 6.000 Tahun Lalu Ternyata Bisa Mematikan, Bagaimana Penjelasannya?
Ilustrasi/Unsplash
A
A
A

Arkeogenomi adalah 'mesin waktu' dan 'kerja detektif', menurut peneliti asal Kolombia, Óscar Alejandro Pérez-Escobar, pemimpin kajian ini sekaligus pakar DNA purba dan analisa anggrek di Taman Botani London, Kew Gardens.

“Ketika sebuah urutan dari sisa-sisa tanaman berumur ribuan tahun, rerata suksesnya sangat rendah, biasanya satu atau dua persen DNA tanaman ini yang bisa terungkap,” kata Pérez-Escobar kepada BBC Mundo.

“Salah satu aspek paling orisinal dalam kajian kami adalah kami bisa memecahkan sekitar 30% dari kode genetika biji berumur 6.000 tahun yang identitasnya belum diketahui.”

“Dari semua sisa tanaman sangat tua yang telah digolongkan secara genetika, ini adalah tanaman tertua yang diurutkan sejauh ini.” tambahnya.

Para ilmuwan membandingkan DNA biji semangka tua tersebut dengan biji lainnya dari Sudan yang sebagian berumur 3.000 tahun serta dengan biji dari herbarium di Kew Garden yang dikoleksi selama 150 tahun terakhir.

“Dan kami menyadari biji-biji dari Libia ini, meski secara genetika berkorelasi dengan semangka yang kita makan sekarang, sangatlah berbeda.” jelasnya.

Putih, pahit, dan berpotensi mematikan

Dengan mengkaji gen-gen mana yang ada pada biji-biji dari Libya dan mengetahui sifat yang dikendalikan setiap gen, para ilmuwan bisa menebak seperti apa semangka yang dikonsumsi 6.000 tahun lalu.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Telusuri berita edukasi lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement