Share

Mengenal Fenomena Langka: Bulan Baru Mikro Diapit 2 Kali Supermoon yang Akan Segera Terjadi

Natalia Bulan, Okezone · Sabtu 11 Juni 2022 07:11 WIB
https: img.okezone.com content 2022 06 10 624 2609209 mengenal-fenomena-langka-bulan-baru-mikro-diapit-2-kali-supermoon-yang-akan-segera-terjadi-3tlNdeNJOc.jpg Ilustrasi/Freepik

JAKARTA - Akan segera terjadi fenomena langit langka berupa Bulan Baru Mikro yang diapit 2 kali Supermoon.

Diketahui peristiwa ini hanya sekali dalam sembilan tahun. Hal ini disampaikan oleh Peneliti Pusat Riset Antariksa BRIN, Andi Pangeran.

"Fenomena ini terakhir terjadi pada 2004 dan 2013, sehingga berlangsung setiap 9 tahun sekali, akan berlangsung kembali pada 2031 dan 2040," kata Andi dikutip dari EDUSAINSA LAPAN (BRIN) pada Jumat (10/6/2022).

Menurutnya, fenomena Bulan Baru Mikro diapit 2 Supermoon ini akan berlangsung pada 29 Juni 2022 mendatang pada pukul 09.52 WIB, 10.52 WITA, atau 11.51 WIT.

Lalu akan kembali terjadi pada 14 Juli 2022, pukul 01.57 WIB, 02.57 WITA, atau 03.57 WIT.

Fenomena langit ini nantinya akan bisa disaksikan di seluruh wilayah Indonesia.

"Untuk Bulan Baru Mikro, saat pagi hari sebelum Matahari terbit tidak dapat disaksikan," ungkapnya.

Dia menerangkan, hal itu karena Bulan terbit lebih lambat dibandingkan dengan Matahari, lalu permukaan Bulan yang mengjadap ke Bumi tidak terkena cahaya Matahari sehingga Bulan tampak gelap.

"Bulan Baru Mikro ini juga bertepatan dengan Ijtimak atau Konjungsi Awal Bulan Zulhijjah 1443 H," papar dia.

Artinya, sambung Andi, jika hilal dapat terlihat, maka 1 Zulhijjah 1443 H akan jatuh pada Kamis, 30 Juni 2022 dan Idul Adha jatuh pada Sabtu, 9 Juli 2022.

Kendati demikian, jika hilal tidak dapat terlihat, maka Zulqaidah 1443 H digenapkan 30 (istikmal) sehingga 1 Zulhijjah 1443 H akan jatuh pada Jumat, 1 Juli 2022 dan Idul Adha jatuh pada Minggu, 10 Juli 2022.

Sebagaimana halnya fase Purnama maupun fase Bulan Baru pada umumnya, fenomena Bulan Baru Mikro ini dapat menimbulkan pasang laut yang lebih tinggi dibandingkan hari-hari biasanya.

Pasang laut ini, disebut juga sebagai pasang purnama. Ini karena konfigurasi Matahari-Bumi-Bulan atau Matahari-Bulan-Bumi yang segaris dan mengakibatkan masing-masing gaya diferensial (gaya pasang surut) yang ditimbulkan oleh Bulan dan Matahari karena memilki arah yang sama.

1
3

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini