KARAWANG - Ada kisah haru di pelantikan Dekan Universitas Buana Perjuangan (UBP) Karawang.
Di antara sejumlah Dekan yang dilantik, ada sosok yang memiliki latar belakang sebagai tukang becak.
Ia adalah Tarpan Suparman (55), mantan tukanng bercak ini berdiri tegap sambil disumpah sebagai Dekan Fakultas Keguruan dan Pendidikan UBP Karawang.
Tarpan tampak tidak canggung dengan rekan-rekan UBP Karawang. Bahkan dia kerap melepas tawa saat bicara dengan kawan-kawan sesama pendidiknya tersebut.
Diketahui, Tarpan memang adalah satu di antara pejabat UBP Karawang dan jabatan sebagai Dekan saat ini adalah periode keduanya.
Diketahui, Tarpan adalah anak dari petani miskin yang hidupnya pas-pasan. Orangtuanya yang buruh tani tersebut tidak memiliki sawah.
"Ayah saya buruh tani menggarap sawah orang. Kami sekeluarga memang serba kesusahan menjalani hidup saat itu," kata Tarpan, mengenang masa lalu, saat diwawancara usai dilantik di Kampus UBP Karawang.
Menurut Tarpan, dirinya tidak menyangka bisa menjadi seorang Dekan. Pasalnya karena ekonomi keluarga yang pas-pasan, sekolah dasar hingga sekolah lanjutan atas dilalui dengan dengan kesusahan.
"Karena faktor ekonomi saya tidak seperti teman-teman lain yang hidupnya kecukupan. Saya cukup tahu diri dan membatasi pergaulan saat di sekolah," katanya.
Lepas dari sekolah SMEA, Tarpan tidak berpikir untuk melanjutkan hingga ke universitas tapi ingin mencari kerja membantu ekonomi keluarganya.
Kemudian dia meninggalkan tanah kelahirannya di Tempuran, Karawang pergi hingga ke Banten.
"Saya cari kerja hingga ke Banten. Namun tidak ada satupun lowongan untuk saya," katanya
Akhirnya dia kembali ke Karawang, namun tidak pulang ke rumah. Tarpan lebih memilih tinggal di rumah kawannya di kota Karawang.
Dia berharap tinggal di kota lebih berpeluang mendapat kerja. Setelah numpang di rumah temannya, namun pekerjaan tak kunjung didapat.
"Hampir setiap sudut kota Karawang saya datangi tapi tidak juga dapat kerjaan," katanya.
Setiap malam dia melamun di depan rumah kawannya. Namun suatu malam saat dia sedang di depan rumah melihat ke ujung jalan banyak becak parkir.
Dia mendatangi pemilik pangkalan becak dan menanyakan apakah ada lowongan untuk sopir becak. Tidak disangka ternyata ada satu becak yang menganggur.
"Saya diterima jadi sopir becak karena pemiliknya kenal dengan teman saya. Itu tahun 1990 saat saya jadi tukang becak.," katanya.
Esok harinya, Tarpan resmi menjadi sopir becak dan mangkal di Kelurahan Adiarsa. Tarpan nekat jadi sopir becak karena keadaan yang memaksa.
"Saya harus bisa hidup sendiri, malu kelamaan numpang di rumah teman. Paling tidak bisa makan minum biaya sendiri," katanya.
Menurut Tarpan jadi sopir becak pendapatanya lumayan untuk bertahan hidup. Setiap hari dia dapat uang dari genjot becak antara Rp2.000 hingga Rp 2.500 per hari.
Setoran untuk pemilik becak Rp 500, hingga perhari dia bisa mengantongi Rp 2.000.
"Cukup untuk makan minum saat itu," katanya.
Namun setelah 1 tahun 5 bulan menjadi sopir becak, Tarpan kembali menganggur karena becak yang menjadi batangannya itu dijual oleh pemiliknya.
Pemilik menjual semua becaknya karena alasan hendak membangun rumah.
"Waktu itu sedih juga karena jadi pengangguran lagi. Cari kerja susah saya sempat putus asa dan ingin pulang ke kampung," katanya.
Namun setelah lepas jadi tukang becak justru jalan hidup Tarpan mulai bersinar. Saat sudah menganggur, tiba-tiba dia di tawari kerja oleh kawannya sebagai tata usaha di Universitas Singaperbangsa (Unsika) Karawang.
Meski baru menjadi karyawan magang namun dia gembira bukan kepalang.
"Waktu pertama kerja sistem gajinya tidak menentu. Tapi saya tetap semangat bekerja," katanya.
Setelah kerja sebagai tata usaha di Universitas Singaperbangsa, Tarpan minta izin pimpinan untuk kuliah.
Ternyata pimpinan setuju dan berharap Tarpan serius menekuni dunia pendidikan.
Setelah kuliah dan berhasil menjadi sarjana, karier Tarpan semakin moncer. Mulanya dia diminta membantu dosen yang berhalangan.
Kemudian kariernya naik saat pindah ke kampus UBP diangkat menjadi dosen dan kemudian dipercaya menjadi Dekan Fakultas Keguruan dan Pendikan di UBP Karawang hingga sekarang.
(Natalia Bulan)
Edukasi Okezone hadir dengan Informasi terpercaya tentang pendidikan, tryout ujian, dan pengembangan karier untuk masa depan yang lebih baik