Share

Rekam Jejak Pendidikan Buya Syafii Maarif, Sosok yang Pernah Jadi Ketua PP Muhammadiyah

Natalia Bulan, Okezone · Jum'at 27 Mei 2022 11:19 WIB
https: img.okezone.com content 2022 05 27 624 2601099 rekam-jejak-pendidikan-buya-syafii-maarif-sosok-yang-pernah-jadi-ketua-pp-muhammadiyah-146qJhC47N.jpg Buya Syafii Maarif/Okezone

JAKARTA - Mantan Ketua Umum PP Muhammdiyah, Buya Profesor Dr H Ahmad Syafii Maarif meninggal dunia hair ini di RS PKU Muhammadiyah Gamping.

Kabar duka ini disampaikan langsung oleh Ketua Umum Muhammadiyah, Haedar Nashir.

"Muhammadiyah dan bangsa Indonesia berduka. Telah wafat Buya Prof Dr H Ahmad Syafii Maarif pada hari Jumat tgl 27 Mei 2022 pukul 10.15 WIB di RS PKU Muhammadiyah Gamping," katanya dalam akun Twitter pribadinya @HaedarNs, Jumat (27/5/2022).

Mungkin banyak yang tak mengenal sosoknya, namun Buya Syafii Maarif adalah seorang ulama dan cendekiawan Indonesia.

Ia lahir pada 31 Mei 1935 dari pasangan Ma'rifah Rauf Datuk Rajo Malayu dan Fathiyah. Pria yang akrab dipanggil Buya Syafii ini adalah anak bungsu dari 4 bersaudara seibu dan seayah, dan seluruhnya 15 orang bersaudara seayah berlainan ibu.

Tahun 1942 Buya Syafii masuk ke Sekolah Rakyat (SR) atau sekolah yang setingkat dengan SD di Sumpur Kudus.

Sepulang sekolah ia belajar agama di sebuah Madrasah Ibtidaiyah (MI) Muhammadiyah pada sore hari dan malamnya ia melanjutkan dengan belajar mengaji di surau yang ada di sekitar tempat tinggalnya.

Pendidikan SR yang harusnya ditempuh selama enam tahun, dapat ia selesaikan hanya dalam waktu lima tahun saja.

Setelah tamat dari SR pada tahun 1947, namun saat itu ia tidak mendapatkan ijazah karena pada masa itu sedang terjadi perang revolusi kemerdekaan.

Setelah lulus, ia tidak dapat melanjutkan pendidikan lagi melihat beban ekonomi yang harus ditanggung sang ayah.

Baru tahun 1950, Buya Syafii masuk ke Madrasah Muallimin Muhammadiyah di Balai Tengah, Lintau sampai duduk di bangku kelas tiga.

Di tahun 1953 saat ia berusia 18 tahun, memutuskan untuk meninggalkan kampung halamannya dan merantau ke Jawa bersama dua adik sepupunya.

Dia diajak untuk belajar di Yogyakarta oleh M Sanusi Latief, namun sayangnya niat itu tidak terwujud, pihak sekolah yang ditujunya, Madrasah Muallimin menolak menerimanya di kelas empat dengan alasan kelas sudah penuh.

Namun, tidak lama dari itu, Buya Syafii diangkat menjadi guru bahasa Inggris dan bahasa Indonesia di sekolah itu dengan jangka waktu yang juga tidak lama.

Kemudian ia bersama sepupunya bernama Azra'i mengikuti sekolah montir sampai akhirnya lulus setelah beberapa bulan belajar.

Tak putus asa, Buya Syafii kembali mendaftar ke Muallimin dan akhirnya diterima tetapi harus mengulang kuartal terakhir kelas tiga.

Selama bersekolah di situ, ia aktif dalam organisasi kepanduan Hizbul Wathan dan pernah menjadi pemimpin redaksi majalah Sinar, sebuah majalah pelajar Muallimin di Yogyakarta.

Ia kemudian tamat dari Muallimin pada 12 Juli 1956, namun memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolahnya setelah ayahnya meninggal pada 5 Oktober 1955 dan karena terkendala biaya.

Di usia 21 tahun, tidak lama setelah tamat, ia kemudian pergi ke Lombok untuk memenuhi permintaan Konsul Muhammadiyah dari Lombok untuk menjadi guru dan ditugaskan di Pohgading.

Satu tahun kemudian, sekitar bulan Maret 1957 di usianya 22 tahun, ia mengunjungi kampung halamannya dan kemudian kembali ke Jawa untuk melanjutkan ke perguruan tinggi di Solo.

Di Solo, ia masuk ke Universitas Cokroaminoto dan mendapatkan gelar sarjana muda di tahun 1964, kemudian ia melanjutkan pendidikannya untuk tingkat sarjana penuh (drs) pada Fakultas Keguruan Ilmu Sosial IKP (sekarang UNY) dan lulus pada tahun 1968.

Selanjutnya, ia terus menekuni ilmu sejarah dengan mengikuti Program Master di Departemen Sejarah Universitas Ohio, Amerika Serikat.

Sementara gelar doktornya diperoleh dari Program Studi Bahasa dan Peradaban Timur Dekta, Universitas Chicago, AS.

Selama kuliah di tanah air, ia sempat menggeluti beberapa pekerjaan untuk kelangsungan hidupnya seperti pernah menjadi guru mengaji dan buruh sebelum diterima sebagai pelayan toko kain di tahun 1958. Setelah kurang lebih setahun menjadi pelayan toko, ia membuka dagang kecil-kecilan bersama teman-temannya dan sempat menjadi guru honorer di Baturetno dan Solo.

Selain itu ia juga sempat menjadi redaktur Suara Muhammadiyah dan anggota Persatuan Wartawan Indonesia.

Sementara saat bersekolah di Chicago, ia terlibat secara intensif melakukan pengkajian terhadap Al-Quran dengan bimbingan dari seorang tokoh pembaharu pemikiran Islam, Fazlur Rahman.

Di sana juga ia kerap terlibat diskusi intensif dengan Nurcholish Madjid dan Amien Rais yang sedang mengikuti pendidikan doktornya.

Kisah masa kecilnya pun sempat ditulis dalam sebuah novel oleh Damiem Demantra yang berjudul 'Si Anak Kampung'

Kini sang tokoh sudah mengembuskan napas terakhir meski sebelumnya sempat dirawat di RS PKU Muhammadiyah Gamping pada 14 Mei 2022 yang lalu karena sesak nafas.

Pada 17 Mei pihak rumah sakit menyebutkan kondisi Buya Syafii sudah stabil namun masih memerlukan banyak istirahat.

Kini ia sudah bisa berisirahat dengan tenang dalam keabadian.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini